Pemilihan Mahasiswa Berprestasi: An Awkward yet Fabulous Moment in My Life ^^

Intro: Saya ‘iseng’ nulis postingan ini saat semangat saya masih meletup-letupnya habis baca (lagi) postingan temen saya Cresti dan Rully, yang juga rekan sesama finalis mawapres nasional tahun 2011 kemaren. 😀 hehe… Setuju banget sama pernyataan Cresti, “You can be a mawapres as long as you put your belief and persistence on that!” Ditambah kata2 inspiratif dari Rully, “Tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan dari Allah SWT”. Saya benar2 merasakan kedua hal ini dalam proses saya menjadi mawapres. 🙂

Jujur sampai sekarang saya masih merasa nggak pantas disebut sebagai mahasiswa berprestasi. Alasannya simply  karena saya belum punya satu MAHAKARYA pun yang bisa saya banggakan. Satu MAHAKARYA yang bener2 bisa merepresentasikan diri saya sepenuhnya. 😀 Saya sadar diri, di luar sana banyaaaak banget mahasiswa yang jauh lebih berprestasi dari saya: jauh lebih banyak menghasilkan karya nyata yang kontribusinya luar biasa untuk masyarakat, jauh lebih baik kemampuan akademisnya dibanding saya, jauh lebih aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri dan pengembangan masyarakat, dll. Pokoknya masih banyak deh mahasiswa yang jauh lebih keren dan tentunya lebih layak menyandang gelar mahasiswa berprestasi dibanding saya! 🙂

Saya sendiri pertama kenal ajang Mawapres –istilah kerennya pemilihan mahasiswa berprestasi ini :)- di tahun 2008, tahun pertama saya menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNS Surakarta. Di tahun di mana saya masih semangat2nya menimba ilmu dan menambah pengalaman ini, saya menghadiri forum yang diisi Kak Danang Ambar Prabowo, Mawapres Nasional 2007 dari IPB. Detail forum itu kayak gimana saya sendiri sudah tidak ingat lagi. Yang jelas forum yang diisi Kak Danang itu sangat inspiratif, dan yang saya tahu semenjak saat itu mimpi menjadi the next mawapres mulai tumbuh dalam diri saya. 🙂 *Thanks, Kak Danang! :D*

Mimpi dan Realisasi

Mimpi saya menjadi mawapres nyatanya semakin terkikis seiring berjalannya waktu.  Lebih tepatnya, saya mulai lupa hal2 terkait mawapres dan sama sekali nggak memasang target apapun biar bisa kepilih jadi mawapres angkatan saya. 😀 Saya yang saat itu mulai ‘jenuh’ dengan perkuliahan yang cenderung ‘teoretis’ dan kurang mengakomodir kegiatan diskusi maupun pengembangan critical thinking (yang ujung2nya saya rasa juga nggak berkontribusi banyak bagi pengembangan skill saya sebagai calon pendidik yang professional), pada akhirnya lebih memilih ‘menyibukkan’ diri di luar kuliah. Saya mulai menggeluti dunia debat (Parliamentary Debate), yang pada akhirnya menjadi tempat di mana saya benar2 bisa mengaktualisasikan diri saya. Saya memang bukan a typical debater yang berprinsip ‘debate is my life’, yang selalu memprioritaskan urusan debat di atas segalanya. Debat adalah sarana saya mengembangkan diri, mengembangkan pola pikir kritis, analitis, dan open-minded yang menurut saya wajib dipunyai calon2 pendidik masa depan, di samping kompetensi pedagogis, professional, sosial, dan kepribadiannya, tentunya. 🙂 Siapa sangka, pengalaman debat ini lah yang berkontribusi besar dalam peningkatan aspek akademis saya. Saya sadar, sebenarnya bukan (baca: gak melulu) sistem pendidikan kita yang salah, hanya manusia2 di dalamnya saja (saya, terutama) yang mungkin kurang mahir memainkan perannya secara optimal. Selepas aktif dalam dunia debat, saya mulai mencoba ‘menghidupkan’ budaya diskusi di kelas yang dinamis. Awalnya, pola diskusi hanya sebatas saya dan dosen, dan beberapa teman yang dari awal memang terlihat kritis, tapi Alhamdulillah seiring berjalannya waktu mulai banyak temen2 yang ‘bergabung’. In short, melalui debat saya berkembang jadi pribadi yang lebih baik. 🙂

Sedikit yang Penting Kontributif

Nggak cuma terjun ke dunia debat yang diwadahi SEF (Student English Forum) UNS, saya juga mulai aktif di berbagai organisasi kampus. Saya masih inget di semester2 awal saya ikut cukup banyak organisasi, mulai dari SKI (Sentra Kegiatan Islam), Forum Angkatan 2008, LSP (Lingkar Studi Pendidikan), ESA (English Students Association), dan Multi-Language Conversation Club (MLCC). Pada akhirnya saya cuma mempertahankan 2 organisasi (ESA dan SEF) sebagai fokus saya ngembangin skill bahasa Inggris saya sendiri maupun mahasiswa2 lainnya. Jadi inget di sesi portfolio interview pemilihan mawapres tingkat nasional, juri2 sempat menanyakan kenapa semua kegiatan saya gak jauh2 dari ‘Bahasa Inggris’. Ya saya jawab saja dengan jujur; karena keterbatasan kemampuan saya, saya ingin fokus di bidang yang benar2 menarik perhatian saya. Biar sedikit, yang penting saya totalitas di sana, yang penting bisa berkontribusi maksimal di sana. 😉 Saya memang bukan tipikal multi-tasking person (though some of my friends think I am) yang bisa dengan lihainya memanajemen waktunya dan menyusun prioritas sedemikian rupa untuk segala aktivitasnya. Saya sudah mencoba itu, tapi lagi2 ini masalah kontribusi, dan saya lebih memilih mengikuti kata hati saya. 🙂

Memilih untuk fokus menempatkan saya pada posisi krusial sebagai Ketua Divisi di kedua organisasi yang saya ikuti tersebut. Saya jadi banyak belajar tentang leadership, kinship, sense of belonging, kecerdasan emosional maupun spiritual, dan banyak hal lain yang selama ini tak pernah saya dapatkan di bangku perkuliahan. Organisasi mengajarkan saya pelajaran hidup, real life practices, bukan sekedar teori, yang andilnya sangat luar biasa dalam membentuk kepribadian saya. It’s a must to join organizations or any other social activities, Guys, for sure! 🙂

Mimpi itu (Ter)bangun Lagi

Di semester ke-5 saya mengikuti ajang pemilihan Duta FKIP, semacam pemilihan mahasiswa (calon guru) terbaik yang diadakan BEM FKIP UNS. Ajang ini memilih 2 orang duta, satu putra dan satu putri yang merepresentasikan calon2 pendidik terbaik se-FKIP. Jika tahun sebelumnya ajang ini bertajuk Pemilihan Pak Harfan & Bu Mus FKIP (tokoh pendidik SUPER dalam film Laskar Pelangi), di tahun saya, acara ini bertajuk Pemilihan Dewantara dan Dewantari FKIP (inget tokoh pendidikan dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”nya kan? :)). Alhamdulillah, saya dinobatkan menjadi Dewantari a.k.a Duta FKIP UNS tahun itu. Saya yang tipikal last-minute person, saya  yang dengan seenak gue nyanyi lagu Hero-nya mbak Mariah Carrey dengan lirik yang lupa2 inget (abis cuma lagu ini sih yg paling mendukung isi training motivasi saya pas itu) :P, saya yang nyiapin RPP buat microteaching cuma 2 jam sebelum deadline gara2 (lupa) nggak ngeliat pengumuman (lagi), dan sederet ‘kebodohan’ lain yang saya lakukan, nyatanya bias sampai ke puncak ajang ini dengan hasil yang luar biasa, jauh dari perkiraan saya. Gak nyangka banget pokoknya! hehe 😀 *All Thanks to Allah Swt.*

Dari kiri ke kanan: Atin-Sifa-Kalis
Dari kiri ke kanan: Atin-Sifa-Kalis

Setelah berefleksi atas keberhasilan saya di ajang Duta FKIP, saya semakin sadar kalo prestasi itu is not necessarily a matter of capability, yet it’s a matter of luck, indeed! Saya ngerasa jadi orang paling beruntung saat itu, dibandingkan dengan kompetitor2 saya yang harus saya akui, LUAR BIASA! Tapi saya sadar, ‘luck’ saya ini nggak serta merta datang gitu aja, tapi dia ada karena kegigihan saya, karena kerja keras dan pengorbanan saya. Karena keberanian saya ‘melawan’ diri saya sendiri; melawan ketakutan dan keragu-raguan atas diri saya. Saya  jadi sadar, Allah itu Maha Bijak, Dia menilai setiap proses yang kita lalui, proses ‘berdarah-darah’ yang membuat kita pada akhirnya mampu ‘menaklukkan’ musuh kita yang sebenarnya. 🙂

Nah, di awal semester 6 mulai ada sosialisasi (lagi) tentang ajang pemilihan mahasiswa berprestasi (MAWAPRES) buat angkatan 2008 dan 2007. Awalnya saya masih galau antara ikut dan tidak, sampai salah seorang teman sekaligus tokoh panutan saya ngirimin sms yang intinya encourage saya buat ikut. Erny, yang juga pernah menjadi rekan terbaik saya di tim debat fakultas, berkali-kali memotivasi saya buat ikut pemilihan mawapres ini. Dia orang pertama yang menaruh kepercayaan begitu besar pada saya, and I owe her that much! Akhirnya, saya beranikan dan mantapkan diri ikut ajang mawapres ini. Singkat cerita, saya berhasil lolos di tingkat Program Studi Bahasa Inggris (yang menurut saya proses seleksinya paling berat karena kompetitor saya, Atin, merupakan mahasiswa dengan IPK terbaik di angkatan kami, sekaligus aktivis organisasi yang jam terbangnya luar biasa! :D), kemudian lolos lagi di tingkat jurusan, tingkat fakultas, dan Alhamdulillah saya dipercaya menjadi Mawapres UNS tahun 2011. 🙂 What a real blessing!

Rewards Afterwards

Akhirnya perjuangan saya terbayar juga. Saya dan rekan2 mawapres dari fakultas lain se-UNS  dapet tiket jalan2 gratis ke negara tetangga. Just so you know, this is my very first time going abroad, Guys! Haha 😀 Seneng banget pokoknya. Dan kebahagiaan saya makin bertambah saat saya terpilih menjadi salah satu dari 16 finalis mawapres nasional setelah melalui desk-evaluation dari seluruh PTN dan PTS se Indonesia! Wow! Bahagia? Jelas. Kaget? Banget. Gimana nggak kaget? Saya ngirimin berkas2 buat desk-evaluation tuh telaaaat banget, seminggu coba! Who in the world will believe such unreliable thing? :O The truth is, saya ini orangnya pikun parah kalo semua agenda maupun deadline nggak saya tandai di kalender saya. Nah, ngepasin pas lagi hectic2nya nyiapin keberangkatan ke negeri orang, saya tinggalin dulu deh dokumen2 penting ini. Saya pikir masih ada cukup waktu sekembalinya saya nanti buat ngurusin dokumen2 ini. Apalagi dosen pembimbing saya saat itu juga sedang sibuk mengurus keberangkatan beliau ke USA buat studi lanjut, jadi saya belum sempat merevisi lagi karya tulis saya. Intinya, saat kembali ke Indonesia, deadline buat desk-evaluation tinggal 1 hari. :O Dan saya terpaksa ngambil kebijakan sendiri, biar telat yang penting saya maksimalin usaha saya. Kalo lolos berarti udah rezeki saya. Kalo nggak lolos, ya berarti saya harus belajar untuk lebih bertanggung jawab lagi. Hehe. Akhirnya saya cuma bisa pasrah. Dan sekali lagi, Allah dengan ke-Maha Baik-annya menolong saya! Lagi, dan lagi! To my shock, saya lolos 16 besar, dan saya diperkenankan bertemu orang-orang hebat se-Indonesia, orang2 yang nggak akan pernah bisa saya lupain dari hidup saya! 🙂

UNS Best Students
UNS Best Students

“To achieve, then, is simply to sacrifice a thing”

Jadi intinya, seorang saya yang cuma mahasiswa biasa2 aja dengan segala kecerobohannya, dan segala keberuntungannya, bisa jadi mawapres, bisa menginspirasi orang2 di sekeliling saya. 😀 Semua itu saya yakini karena saya, somehow, berani melawan musuh terbesar saya; diri saya sendiri, dan tentunya karena pertolongan-Nya yang luar biasa untuk saya. “Then which of the favours of Your Lord will you deny?” (Q.S. Ar-Rahmaan)

Terakhir dari saya: “It’s not achievement if you went so easily through the process obtaining things you want the most in life. Being a strong achiever means being the you who endeavour the best; pushing yourself to the absolute limit, conquering all hesitancy and fear within you, keep trying when others tell you to give up, keep running when others tell you to stop. Just then you could call yourself a true achiever, a real champion of your very own life.

To achieve, then, is simply to sacrifice a thing.” 🙂

 

So, have a faith in you, Guys! Keep pursuing your dreams, striving to the absolute fullest! 🙂

With Love,

Siti Fathonah Wijayanti

a.k.a SiFa

a.k.a Concetta Erasmus Edogawa ^^

Bersama kelima belas finalis mahasiswa berprestasi nasional beserta Dewan Juri *Post-Paper Presentation*
Bersama kelima belas finalis mahasiswa berprestasi nasional beserta Dewan Juri
*Post-Paper Presentation*
All Finalists :)
All Finalists 🙂

#ditulis di Wonogiri, 2 Mei, 2012. 20.56 WIB, di sela2 buat koding & kategorisasi data buat skripsi tercinta 🙂

Advertisements

21 thoughts on “Pemilihan Mahasiswa Berprestasi: An Awkward yet Fabulous Moment in My Life ^^

  1. “Then which of the favours of Your Lord will you deny?”

    *kadang suka berasa ‘kemaruk’ tapi ternyata memang disayang :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s