Ayah: A Story of My First Love <3

I love you, Dear Father...

Every moment with you, is the sweetest one…

Ayah.

Kata yang setahun belakangan ini mempunyai arti yang jauh lebih dalam dari sebelum-sebelumnya.

Kata yang saat mengucapkannya kini membutuhkan berjuta kekuatan tak terlihat, untuk sekedar membuat nadanya utuh, tak terpecahkan isak…

—–

Kau tahu,bukan?

Bagi seorang gadis, Ayah selalu menjadi cinta pertamanya.

Ayahku adalah cinta pertamaku. 🙂

—–

Waktu aku kecil, Ayah akan selalu setia mengantarkan tidurku dengan setiap dongeng dan cerita yang diramunya menjadi begitu ‘hebat’.

Ayah yang setiap pagi bersikeras mengantarku dengan sepeda tuanya, hanya demi memastikan putrinya ini sampai di sekolah dengan selamat.

Dan bodohnya, selalu saja aku tolak mentah-mentah permintaaan Ayah itu.

Ah, kau mungkin tak tahu. Kelainan tulang belakang yang Ayah derita membuat keseimbangan tubuhnya sedikit terganggu sehingga tiap kali bersepeda dengannya aku selalu merasa akan jatuh sebentar lagi. Ketakutan itulah yang membuatku selalu menolak diboncengkan olehnya.

Waktu itu aku hanya tak tahu kalau Ayah benar-benar mencemaskanku.

Ah, waktu itu aku benar-benar belum tahu apapun. 🙂

—–

Ayah selalu menjadi guru terbaik selain Ibu.

Guru favoritku? Entahlah… Ayah lebih sering diam, atau tersenyum saja untuk menjawab beberapa  pertanyaanku yang membombardir. Aku tak tahu apakah Ayah memang tak bisa menjelaskan jawabannya, atau Ayah ingin memberi isyarat agar aku temukan sendiri jawabnya. Yang jelas, aku kini tahu, tak semua pertanyaan harus dijawab dengan banyak penjelasan, dan tak semua pertanyaan butuhkan jawaban. 🙂

*hei, terkadang kau hanya cukup tersenyum, atau ganti bertanya, bukan? 😀

—–

Ayah adalah orang yang pertama kali mengajarkanku mencintai buku.

Beliaulah orang pertama yang membuatku begitu bersemangat belajar membaca semenjak duduk di bangku taman kanak-kanak.

Layaknya anak kecil lainnya, aku kecil sangat menyukai hadiah. Namun rasa-rasanya tak ada hadiah lain yang lebih membahagiakan daripada setumpuk buku fiksi yang selalu Ayah bawakan sepulangnya dari bekerja.

Aku kecil tumbuh menjadi kutu buku yang tak pernah melewatkan setiap momen tanpa buku.

Aku bahkan rela bertahan di perpustakaan sekolah baru yang masih penuh debu hanya demi menyantap buku-buku nan lezat.

Dan pernah suatu ketika aku ‘merelakan’ diri menginap sendiri di tempat saudara jauh (I mean, benar-benar jauh dari Ayah dan Ibu saat itu) hanya karena diiming-imingi buku baru! -__-“

Aku yang keterlaluan cinta sama buku. Aku yang membangun dunia mimpi dan imajinasiku melalui buku. Dan kau kini tentu tahu siapa tersangka utama untuk hal ini: Ayahku! 😀

(Ah, thanks Dad, I learn a lot from books. I travel a lot with books! :D)

—–

Ayah adalah koki terbaik yang pernah aku kenal.

Sensasi tiap kali menyantap masakan Ayah adalah, “Aku pengin nambah lagi!” Lagi, dan lagi. 😀

Ah, masakan Ayahku benar-benar enak! (Maknyuss kalo kata Pak Bondan! :D)

Dan sampai sekarang aku (harus) mengaku kalah soal masak-memasak ini.

Oh ya, aku paling suka nasi goreng Ayah. Dari sekian banyak restoran sampai warung makan pinggiran yang pernah aku sambangi, belum pernah ada yang nasi gorengnya berhasil menaklukkan lidahku seperti nasi goreng buatan Ayah. ^^

Masih soal masakan, pernah suatu ketika keluarga besar Ibu dari Jogja berkunjung ke rumah kami di Wonogiri. Waktu itu Ibu kebetulan ikut rombongan, jadilah Ayah yang harus menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut tamu kami ini, termasuk menyiapkan jamuan makan.

Saat menyantap hidangan, yang terlontar dari keluarga kami adalah, “Enak sekali masakannya.” “Ini pesen di resto mana?” “Pesen catering mana?” Ayah cuma bisa senyum-senyum sambil dengan santainya menjelaskan beliaulah yang memasak semuanya. Keluarga kami jelas kaget. Tak menyangka Ayahku cukup berbakat juga soal ini.

Super sekali bukan, Ayahku? ^^

Itulah mengapa aku terus belajar memasak hingga sekarang.

Aku tak mau kalah dari Ibu, apalagi dari Ayahku! Haha * semangaaattt!* \(^o^)/

—–

Ayah, orang yang selalu bisa memahamkanku tanpa kata.

Ayah yang langsung mengajakku jalan-jalan di Pasar Dawai sesaat setelah aku mengaku baru saja habis tenggelam di sungai saat bermain dengan teman-teman baruku.

Ah, bukankah seharusnya Ayah memarahiku seperti  layaknya orang tua lain yang mengkhawatirkan keselamatan anaknya? Ayah bukannya marah. Justru dia melegakan hatiku dengan mengajakku menikmati pesona Dawai, salah satu daerah terpencil nan indah di tanah Papua, tempat Ayah ditugaskan dulu.

Ah, kadang aku benar-benar tak dapat mengerti maksud Ayah.

Yang aku tahu, Ayah selalu bisa memahami perasaanku.

Ayah tahu bahwa aku telah mengumpulkan cukup banyak keberanian untuk sekedar mengakui insiden tenggelam itu.

Ayah menghargai usahaku untuk tetap berkata jujur meskipun tahu resiko dari kejujuran itu.

Apa jadinya jika sore itu Ayah memarahiku? Melarangku bermain-main ke sungai lagi?

Mungkin aku yang keras kepala ini justru akan dongkol sekali, bersungut seharian, dan bisa jadi di beberapa hari yang lain aku justru akan melanggar larangannya itu.

Ayah telah memilih ungkapkan sayangnya dengan cara yang lembut.

Ayah membuatku berpikir sebab tanpa memberikan akibat fatal yang mungkin akan melukaiku.

Dan sejak hari itu aku berjanji dalam hati, aku harus bisa berenang agar tak tenggelam lagi.

*Kau tahu, setelah insiden itu Ayah benar-benar bertekad mengajariku berenang. Yah, meskipun Ayah harus kecewa karena sampai saat ini yang aku kuasai hanya gaya batu! 😛 Ehehe. (Maafkan aku, Ayah!)

—–

Rasa-rasanya terlalu banyak momen-momen bahagia penuh senyum dan syukur yang kulalui bersama Ayah. Terlalu banyak untuk bisa ku tuangkan dalam kata…

Ayah, yang wajahnya selalu mengingatkanku untuk terus tersenyum, bersabar, dan bersyukur.

Ayah, yang selalu menjadi kawan setia.

Yang mengajakku menikmati suasana malam pasar Serui. Menyusuri dermaga dalam kerlap-kerlip lampu yang cantik sekali. Menikmati riak ombak tepi laut. Membelikan martabak dan terang bulan kesukaanku. Menggendongku di punggungnya saat aku terlelap kecapekan setelah merayakan ulang tahun ke-8 ku.

Ayah, yang mengajakku menyambangi Dawai yang sungguh jelita. Mengajariku berenang untuk pertama kalinya (satu-satunya ‘pelajaran’  darinya yang sampai saat ini belum aku kuasai :D).

Ayah, yang kepulangannya dari daerah selalu kusambut dengan teriak kegirangan, berlari memeluknya sambil meraih bermacam buah tangan yang dibawanya. Dan Ayah, yang dalam menit berikutnya hanya bisa tersenyum geli melihatku larut menikmati buah tangan itu tanpa sedikitpun menggubrisnya yang sudah lama menahan rindu.

Ayah, yang teriakannya memanggilku pulang, mengingatkanku untuk makan setelah seharian aku berpetualang bersama teman-teman bolangku.

Ayah, yang selalu siap dengan rotan kecil di tangannya, mengingatkanku untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu.

Ayah, yang memungut raport pertama SMP-ku yang kulempar begitu saja karena malu melihat ‘isi’ di dalamnya, meyakinkanku bahwa aku pasti bisa melakukan yang lebih baik lagi di semester-semester berikutnya. Dan Ayah benar, selalu benar.

Ayah, yang selalu (berpura-pura) cuek setiap kali aku terlalu bersemangat dengan pencapaian-pencapaianku. Berusaha keras menyembunyikan gurat kebahagiaannya di wajahnya itu, sementara di belakangku dialah orang yang selalu bangga atas semua pencapaian-pencapaianku. Yang selalu membanggakanku tanpa pernah sedikitpun melambungkanku.

Ayah, yang membuatku sangat khawatir karena di tengah kondisinya yang tak sehat betul harus mengantarku malam-malam ke rumah teman saat harus pergi bertanding ke luar kota untuk kesekian kalinya. Yang juga rela mengantarkanku ke Ibukota hanya demi memastikan berkas aplikasi beasiswa putrinya masih bisa diterima.

Ayah, yang selalu menyambut kepulanganku dengan senyum yang menghangatkan. Bertanya ini itu soal kesehatan, cita dan mimpi-mimpi. Memastikan semua yang ada pada putrinya selalu baik saja.

Dialah Ayahku, orang yang selalu ada untukku…

Ulang tahunku yang ke-2, bersama Ayah :)
Ulang tahunku yang ke-2, bersama Ayah 🙂
Di Istana Anak: Tante Sri, Mbah Tarti, Ayah, aku (^^, Ibu, Adek
Di Istana Anak: Tante Sri, Mbah Tarti, Ayah, aku (^^), Ibu, Adek
Foto lebaran terakhir Ayah bersama kami
Foto lebaran terakhir Ayah bersama kami
Salah satu foto paling romantis Ayah & Ibu ^^
Salah satu foto paling romantis Ayah & Ibu ^^

—–

Rasa-rasanya aku ingin momen-momen bahagia saja yang kekal di hatiku selama bersamanya.

Tapi bukankah kita hidup dalam siang dan malam, terang dan gelap, cerah dan mendung, panas dan hujan? Bukankah hidup selalu mengajarkan kita keseimbangan?

Mustahil aku rasakan bahagia, bila duka tak pernah sekedar singgah dalam tarik nafas yang memburu.

Momen-momen bahagia bersama Ayah, momen-momen penuh senyum dan tawa bersamanya, perlahan menambah warna lainnya.

Kali ini aku menangis untuk Ayahku…

***

To be continued…  (Part 2)

 

 

 

My Own Place | 17th October 2012 | 7.56 a.m.

Ditulis dengan sisa air mata, masih mengumpulkan sedikit kekuatan untuk sekedar merangkum kembali beberapa penggal kisah tentangnya, yang menjadi muara rindu beberapa waktu terakhir…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s