Oleh2 Seminar Pendidikan PB 2.0, “Unlocking Knowledge, Empowering Mind” :)

Teman-teman mungkin sudah tak asing lagi dengan nama komunitas “Pemburu Beasiswa (PB) 2.0” atau yang sering dikenal dengan nama “Pemburu Beasiswa Dalam dan Luar Negeri” ini. Yup, komunitas ini baru-baru ini (tepatnya tanggal 10 November 2012 kemarin) sukses menyelenggarakan acara perdana dan fenomenal: Seminar Pendidikan Pemburu Beasiswa 2.0, “Unlocking Knowledge, Empowering Mind”.

Acara ini merupakan event besar perdana yang diusung komunitas PB 2.0. Sekalipun perdana, saya sangat setuju sekali kalau acara ini dikatakan fenomenal! 🙂 Bagaimana tidak? Seminar ini menghadirkan langsung beberapa pembicara luar biasa yang sudah “mencicipi” asam garam kehidupan perkuliahan di luar negeri. Kakak-kakak kita ini sengaja diundang untuk berbagi kiat-kiat lolos beasiswa luar negeri yang merupakan impian banyak pelajar di Indonesia. (Hayo ngaku, kamu termasuk salah satunya juga kan? ^^) Nah, selain talkshow dengan kakak-kakak yang keren tadi, ada lagi sesi Video-Conference dengan kakak-kakak yang saat ini masih menempuh studi mereka di belahan bumi yang lain. Daaan, untuk mendapatkan sensasi luar biasa mengikat banyak ilmu di seminar ini, peserta tidak dikenakan biaya sepeser pun alias GRATIS!!! 😀 (Mahasiswa paling demen nih yang serba gratisan! :P) Tuh, FENOMENAL banget kan? 😀

Nah, tulisan ini adalah sedikit oleh-oleh buat temen-temen yang kebetulan kemaren gak bisa ngikutin seminar ini secara langsung. Catatan ini berisi apa-apa yang ‘berhasil’ saya rekam dan ikat maknanya dalam memori saya yang serba terbatas. Mohon maaf ya bila apa yang saya sampaikan nanti belum bisa sepenuhnya merangkum isi seminar, maklum saya ambil bagian jadi panitia acara yang wira-wiri mengkondisikan peserta. Hehee *excuse* ^^v

Langsung aja… Cekidot, Sist, Bro! 😀

>>Gimana sih caranya dapet beasiswa X,Y, Z, dkk?

Buat ngejawab pertanyaan kayak gini sebenernya butuh kontemplasi mendalam dan jawaban berbuku-buku. Hehe. Maklum, kiat lolos beasiswa akan sangat tergantung pada karakter masing-masing beasiswa, jadi jawabannya pun akan sangat beragam. Nah, saya akan coba rangkum 10 tips (umum tapi mendasar) yang udah dibagi sama kakak-kakak kita kemarin. 🙂

#1 KNOW YOUR GOAL

Sebagai Muslim saya percaya, segala sesuatu (amalan) itu bergantung pada niatnya. 🙂 Nah, ini berlaku juga dalam usaha pencarian beasiswa, Kawan. Tetapkan di awal, apa sih tujuan kita apply beasiswa ini? Impact macam apa yang beasiswa ini bakal berikan ke tujuan jangka panjang kita? Mari mulai susun life plan kita baik-baik dari sekarang.

Kalo kata Kak Ikono nih, idealnya belajar di luar negeri itu jadi semacam “turunan” dari life plan kita. So, misalnya nih, karena saya pengin (bangettt) jadi linguist yang mumpuni sekaligus pengajar (bahasa Inggris) professional, saya akan apply ADS, ambil applied linguistics di Macquarie University Australia karena setahu saya di Indonesia masih sangat terbatas tempat dimana saya bisa mengeksplore ilmu linguistik terapan ini, utamanya penerapannya di bidang pendidikan bahasa. Dan dari hasil riset kecil2an saya, Macquarie terkenal bagus dalam pengembangan keilmuan ini. So, belajar di Macquarie dapat menjembatani cita2 saya menjadi linguist dan guru yg profesional. Tapi, kalo ternyata di Indonesia udah ada kampus yang pengembangan keilmuan bidang linguistik terapannya bagus, boleh deh dipertimbangkan berburu beasiwa dalam negeri aja. 😀 Seperti itu kira2 ilustrasinya 😀

Yang penting Kawan, kita punya goal-setting yang jelas: mau jadi apa nantinya? Nah, untuk mewujudkannya salah satunya lewat beasiswa (baik dalam maupun luar negeri) itu. Percuma misalnya saya pengin jadi guru Bahasa Inggris tapi beasiswanya ambil Bisnis, hanya demi bisa melihat 4 musim di negeri orang. Gak nyambung, Jek!! 😀

Nah, yang harus dipikirin kemudian, benefit ato impact macam apa sih yang bakal kita berikan jika berhasil dapet beasiswa ini? Lanjut poin #2 ya. 🙂

#2 CONTRIBUTIONS TO SOCIETY

Rata-rata (alumni) penerima beasiswa yang pernah saya temui (baik di dunia nyata maupun maya) menyebutkan salah satu kunci penting dalam meraih beasiswa adalah: KONTRIBUSI. Maksudnya, ada jaminan kontribusi yang akan kita berikan ke depannya setelah menyelesaikan studi dengan beasiswa tersebut. Kontribusi kepada siapa? Bisa kepada penyedia beasiswa (baik langsung maupun tak langsung, ini terkait poin #3). Bisa kepada Pemerintah. Tapi, yang paling penting adalah kontribusi kepada masyarakat luas tentunya. 🙂

Kak Early dan Kak Ikono sempat menyebutkan, punya pengalaman kerja sebelum studi lanjut punya ruang cukup besar lho dalam kontribusi kita nantinya. Misalnya nih, saya udah merampungkan studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris (maaf ya contoh-imaginary-nya saya lagi :D), saya nggak langsung lanjut S2 tapi kerja dulu, ngajar 2 tahun katakanlah. Nah, selama 2 tahun ngajar ini, saya “belajar” melihat apa-apa yang masih menjadi “challenges” dalam pengajaran Bahasa Inggris di sekolah selama ini. Ternyata, saya nemu akar masalahnya adalah X, nah untuk solving X ini saya perlu belajar banyak tentang Y. Oleh karena itu saya putusin studi lanjut mendalami Y ini. Jadi dengan belajar Y di Ausie misalnya, saya nantinya akan berkontribusi ngeresolve challenges yg berakar dari X itu tadi. Dengan solusi macam ini, kan ada andil positif majuin pendidikan kita juga. Dan andil ini akan punya dampak sistemik yang kalo kita turut-turut bisa banyak sekali. Begitulah kira2. 🙂

Nah akan lebih bagus lagi, seperti kata Kak Kristian, kalo ada keterikatan institusi yang jelas pas kita apply beasiswa (terutama buat yang postgraduate study). Keterikatan institusi ini jadi salah satu jaminan kontribusi untuk kembali dan mengabdi selepas belajar di negeri orang, sekembalinya kita ke tanah air.

Anyway, masalah kontribusi ini bisa sangat luas, Temans. Nggak terbatas pada hal2 yg udah saya sebut di atas. Yang paling ‘simpel’ aja nih, kontribusi seorang penerima beasiswa adalah memotivasi para pelajar lain untuk bermimpi setinggi-tingginya, melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, mengikat ilmu tanpa batas. 🙂 Dare to inspire? 😀 Yuk, lanjutin berburu beasiswanya…! (Lagi2 memotivasi diri sendiri. Hehe)

#3 TARGET SECTOR PEMBERI BEASISWA

Para penyedia beasiswa (luar negeri utamanya) mungkin orang-orang yang kelewat baik ya, sampai-sampai membagikan banyak beasiswa “cuma-cuma” ke pelajar seantero jagad raya? Well, mungkin gak sebaik itu juga, Kawan… 🙂

Kak Kristian kemarin sempat menyebut-nyebut target-sector penyedia beasiswa. Biasanya penyedia beasiswa juga “punya maksud” ketika memberi dana begitu besar buat para grantee. Para pemberi beasiswa ini juga punya GOAL, nah beasiswa yang dikucurkan ini nantinya membidik orang-orang yang secara langsung maupun ndak langsung akan turut menyukseskan pencapaian goal mereka. Jadi, kenalilah target sector penyedia beasiswa, sesuaikan dengan goal yang udah kita punya. Kalo sesuai, lanjuuut! Kalo belum sesuai, ya cari lagi yang sesuai! Hehe 😀

#4 LENGKAPI (DAN TELITI) BERKAS APLIKASI BEASISWA

Ini nih, proses paling berdarah-darah yang WAJIB kita lalui dalam perburuan beasiswa. T.T

Nglengkapin berkas aplikasi ini nggak mungkin bisa dilakukan secara instan, Sist, Bro. In fact, butuh proses berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun buat mendapatkan berkas yang “ideal”. Nah, berikut tips2 dari kakak-kakak kita:

*Curriculum Vitae (CV)

Buatlah CV yang padat tapi “menggigit”. 😀 Kalo saya nggak salah denger nih, kemarin Kak Ikono nyebutin, CV yang baik buat apply beasiswa itu bukan yang berlembar-lembar tapi scattered everywhere, melainkan yang ringkes tapi menjual >>nunjukin kualitas kita yang sebenernya. Well, urusan CV ini emang nggak gampang bikinnya. Butuh editing berkali-kali sampai dapat yang PAS MANTAB. Apalagi kemampuan Bahasa Inggris kita juga dipertaruhkan di sini. Makanya sangat disarankan kita konsultasikan CV kita ini kepada mereka2 yang ahli di bidangnya. Teman maupun kenalan kita yang pernah berhasil nembus beasiswa bisa jadi referensi yang tepat buat konsultasi. Kakak-kakak pembicara kita ini juga berkenan kok buat jadi tempat konsultasi. (Kontak ada di link bawah) 🙂

*Letter of Recommendation / Reference

Surat Rekomendasi adalah salah satu unsur paling penting yang menentukan sukses tidaknya perburuan beasiswa kita. Seperti kata Kak Early, sekalipun kita sudah bekerja, surat rekomendasi untuk studi lanjut ini lebih relevan ditulis dosen yang benar-benar mengetahui kapasitas/kemampuan akademik kita, alih-alih bos yang tahu kinerja professional kita. Jangan salah minta ya. 🙂

Nah, perlu banyak pertimbangan juga nih dalam memilih dosen pembimbing sebagai referee kita. Mungkin sebagian kita berpikir, rekomendasi dari dosen-dosen yang menduduki jabatan tinggi di kampus akan “lebih menjual”. Jangan salah, kadang justru dosen-dosen ini terlalu sibuk sehingga rekomendasi yang dibuat sifatnya formal sekali dan terkesan “pukul rata”, semua mahasiswa dinilai sama. Atau justru kita yang disuruh membuat sendiri surat rekomendasinya. Nah, lho! Ini jauh lebih complicated urusannya. 😛

Nah, idealnya, carilah dosen yang benar-benar mengenal kita, baik kapasitas akademik maupun non-akademik yang kita punyai. Pembimbing Akademik bisa jadi salah satu referee yang tepat. Dosen pembimbing skripsi atau tesis kita juga orang yang tepat untuk dimintai rekomendasi. Intinya, jangan sampai salah pilih dosen ya, Temans! Kenali dosenmu! 😀

Just in case, ketika kalian diminta membuat “reng-rengan” surat rekomendasi terlebih dahulu, buatlah yang tidak bertele-tele. Daripada mengatakan, saya orangnya rajin, pandai membagi waktu lalalala, lebih baiknya langsung ditunjukin dari aksi nyata kita. Misal nih, kita menjabat posisi penting di organisasi X,Y, Z, ikut kegiatan bejibun, kita masih bisa menjaga IP/IPK tetap baik. Bisa juga sebutin salah satu event atau momen penting dimana kualitas kita terlihat dari peran kita di sana. Yang terpenting, reference letter ini bukan sekedar retorika, tapi terlihat aksi nyata kita, Kawan. 😀

*Letter of Acceptance

Jujur nih, dari dulu momok berburu beasiswa bagi saya adalah gimana caranya buat ngontak Profesor di luar negeri sana, terus bisa dapet LoA ini. 😀 Ya, meskipun nggak semua beasiswa mensyaratkan kita punya LoA dulu, tapi dengan memiliki LoA kita punya poin lebih untuk dipertimbangkan menjadi penerima beasiswa tersebut. Yang harus kita inget, para professor yang bakalan kita kontak ini adalah orang-orang SUPER sibuk, Sist, Bro! 😀 Jadi, macam apa emailmu nanti bakalan nentuin direspon nggaknya oleh para professor ini. Berikut sedikit tips yang bisa dibagi:

-Jangan panjang-panjang nulis emailnya. Cukup 2-3 paragraf saja.

Kalo dari Kak Ikono, email nggak perlu bertele-tele ngenalin siapa kita. To the point aja, misal nih kita punya kesamaan interest dengan studi yang ditekuni Prof. X. Kita sampaikan, kita sudah baca beberapa publikasi beliau di mana, lalu sampaikan pandangan kita, kajian atau riset yg pengin kita selami lebih lanjut, sembari menanyakan peluang untuk bisa dibimbing beliau nantinya. Nah, di akhir-akhir barulah kita tawarkan CV kita yang diattach di email tersebut. 🙂

-Buat Judul yang Menarik

Bayangin seorang Professor SUPER sibuk dengan koneksi dimana-mana pastinya menerima ribuan email tiap harinya. Nah, kalo judul kita biasa-biasa aja, bisa jadi nggak bakalan dibaca sampai kita ubanan. 😀 Jadi, buatlah judul semenarik mungkin (tapi please, jangan yang 4L4Y yah :D). Contoh judul yang bagus mungkin: Prospective Student, Your Paper on…, dst.

-Sebar email kemana-mana

Satu hal yang paling berkesan yang saya lihat dari salah satu pembicara, Kak Randy Octamario, adalah kegigihan beliau dalam mengontak para professor di luar negeri sana. Kak Randy sempat menceritakan bagaimana beliau mengirimkan setidaknya 50 email ke calon prof di beberapa universitas, dan hanya sekitar 5 yang merespon. Responnya pun tak semuanya positif, hanya 2-3 yang prospektif. 🙂 Lesson learnt nya: perbanyak ngirim emailnya, biar peluang direspon dan dapet Lo Anya pun lebih banyak. 😀

*Kemampuan Bahasa Asing

Yang ini WAJIB hukumnya bagi pemburu beasiswa manapun. Kenali negara tujuanmu, pelajari bahasanya. Atau setidaknya kuasailah Bahasa Inggris yang sudah mengglobal. Nggak harus MAHAL kok buat menguasai Bahasa Asing ini. Nggak harus kursus atau beli buku-buku. Kita bisa memanfaatkan perpustakaan, sarana belajar online yang tak berbayar, atau manfaatkan teman maupun kolega kita sebagai partner berlatih. Yang jelas, passion belajar harus terus dijaga. Man jadda wa jada! 🙂

#5 PELAJARI PROFIL PARA PENERIMA BEASISWA

Ini nih yang mungkin sering nggak terpikirkan. Kalo pengin lolos ADS misalnya, pelajarilah profil para ADS grantee. Jadi mulai sekarang bangunlah link dengan para (alumni) penerima beasiswa. Join milis beasiswa atau grup PPI dunia. Serap ilmunya. 🙂 Insya Allah, kakak-kakak kita akan sangat welcome untuk sharing ilmu dan pengalamannya. 🙂

#6 MALU BERTANYA, SESAT DI JALAN

Dalam proses perburuan beasiswa, jangan pernah malu bertanya. Bertanyalah ketika memang masih ragu-ragu, bingung, sama sekali nggak tahu harus bagaimana. Bertanyalah pada orang yang tepat, tentunya yang sudah pernah berhasil mendapatkan beasiswa. Tapi, ketika bertanya, jangan tunjukkan kalo kita tipikal orang yang minta disuapin. Beberapa pertanyaan bisa cukup annoying semisal nanyain, “gimana sih cara apply ADS?” padahal jelas-jelas bisa dibaca dulu di pedoman aplikasi. Sebelum bertanya, carilah info sebanyak-banyaknya dari media apapun, gampangnya sih tanya Mbah Google. 😀 Sering-sering berkunjung ke web2 universitas maupun institusi penyedia beasiswa yang kita inginkan. Jadi, kita punya basic knowledge juga biar nggak “malu-maluin” saat bertanya. 😀

#7 JANGAN MENYERAH, COBA LAGI, DAN LAGI!

Ada beberapa grantee yang sekali apply beasiswa langsung keterima, tapiii… tak sedikit yang berkali-kali apply tapi gagal, baru berhasil setelah mencoba yang kesekian (puluh) kalinya. Jadi, teruslah mencoba Kawan! GAGAL? YA, COBA LAGI! \^^/

#8 UPGRADE DIRI

Mulai sekarang, kembangkan diri kita, karena kualitas kita nantinya akan sangat ditentukan siapa kita sekarang. Aktiflah dalam kegiatan-kegiatan positif apapun. Cobalah hal-hal baru, kenali lingkungan dan teman-teman baru. Jangan pernah takut mencoba karena takut gagal. Toh, sebenernya kegagalan itu nggak bener2 ada kalo bisa kita sikapi dengan bijak. Kata teman saya, hanya ada 2 kemungkinan ketika kita mencoba: BERHASIL atau BELAJAR! [AK & EB] Superb kan? 😀

#9 RIDHO ORANG TUA

Sekuat apapun kita berusaha, kalo ortu nggak ridho juga nggak bakalan berkah usaha itu. Jadi, mulai sekarang carilah ridho ortu buat yang mau belajar ke negeri orang (termasuk yang nulis nih ^^). Jalin komunikasi yang baik (dari hati ke hati) sehingga ortu pun rela, ikhlas ngelepas kita menuntut ilmu di negeri orang. 🙂

#10 DO’A

Nah, muara segala ikhtiar kita tadi ya DO’A, Kawan.. Titik dimana kepasrahan kita berdiam. 🙂 Jangan pernah remehkan kekuatan do’a karena ada banyak energi positif di dalamnya. Yang jelas, manusia tetaplah manusia yang sampai kapanpun tak bisa “lepas” dari Yang Maha Berkuasa atasnya. Jangan pernah ragu untuk meminta kepada-Nya, Dia Maha Kaya, dan Maha Pengabul Do’a. Ah, satu lagi, Dia Yang Paling Tahu yang terbaik untuk kita. 🙂 Terus ikhtiar, berdo’a, dan berprasangka baik pada-Nya. 🙂

*****

Alhamdulillah… selesai juga nulis 10 tips ini. Selamat ya udah baca sampai akhir! Hehe 😀

Nah, di bawah ini saya kasih link-link terkait FB para pembicara, video streaming acara seminar PB 2.0 kemarin, dan tulisan2 terkait beasiswa dari blog-blog lain yang keren punya. 😀 Semoga bermanfaat ya!

Last but not least, ngutip dikit kata2 Kak Randy, “Lihat dunia, ambil ilmu di mana kita berpijak!”

See you on the top, all! ^^

RELATED LINKS

SPEAKERS

Patmah Fatoni

Early Rahmawati

Radyum Ikono

Octamario Randy

Kristian Adi Putra

Muhammad Senoyodha Brennaf

Sri Susilo

Ifa Latifah

Purba Purnama

Ridwansyah Yusuf Achmad

VIDEO STREAMING

OTHER BLOG

Siti Sukainah

I Made Andi Arsana

Ahmad Nasikun

GROUP

OISAA (Overseas Indonesian Students Association Alliance)/PPI Dunia

Pemburu Beasiswa Dalam dan Luar Negeri (Indonesia)

9 thoughts on “Oleh2 Seminar Pendidikan PB 2.0, “Unlocking Knowledge, Empowering Mind” :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s