Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?

Bagi saya, uang bisa membeli kebahagiaan!

Begitulah bunyi status teman saya yang diposting di FB beberapa hari lalu yang kemudian sempat menimbulkan sedikit kontroversi di antara teman-teman. Wajar. Beda pendapat itu wajar. Pasti ada yang setuju, ada juga yang tidak bisa begitu saja menerima apa yang kita sampaikan. Toh, kacamata yang kita pakai tak selalu sama, sehingga persepsi masing-masing pun menjadi lain.

 Lalu, apakah uang benar-benar bisa membeli kebahagiaan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, rasa-rasanya tak bijak jika saya kemudian memutuskan menggunakan satu kacamata saja sebagai perspektif satu-satunya untuk menelaah makna dibaliknya.

Ya, uang bisa membeli kebahagiaan.

Mau infaq butuh uang. Mau haji butuh uang. Berobat ortu butuh uang. Beli nasi butuh uang. Mau nikah butuh uang. Mau beli baju butuh uang. Shodaqoh fakir miskin butuh uang. Sekolahin anak yatim butuh uang. Apapun yang kita butuhkan atau inginkan akan selalu  membutuhkan uang.

Uang membantumu memenuhi banyak kebutuhan dan keinginan, yang ketika semuanya terpenuhi kau rasakan bahagia. Uang membantumu memberikan kebutuhan dan keinginan orang lain di sekitar, yang dengan itu hadirkan bahagia mereka.

Bukankah uang dapat membeli kebahagiaan?

Ya, uang bisa membeli kebahagiaan.

Jika kita berpenghasilan dan menyisihkan uang sebagian untuk orang tua, istri, anak. Coba lihat betapa senangnya raut wajah mereka.

Uang yang kau berikan pada orang-orang yang kau sayangi hadirkan bahagia pada raut wajah mereka.

Bukankah uang dapat membeli kebahagiaan?

Ya, uang bisa membeli kebahagiaan.

Bisa tetapi tidak mutlak. Membelikan permen pada anak kecil bisa membahagiakan mereka.

Karena uang yang kemudian kita wujudkan dalam bentuk “permen” yang kita berikan pada anak kecil ini, dia menjadi bahagia, apa yang disukainya hadir di depan mata. Uang membantumu membahagiakan orang lain.

Bukankah uang dapat membeli kebahagiaan?

Bukan membeli, tetapi menghasikan. Uang bisa menghasilkan kebahagiaan.

Kau mentraktir temanmu semangkuk mie ayam. Dia menjadi bahagia karena itu. Kau pun merasa bahagia melihatnya bahagia. Kemudian timbul keinginan untuk mentraktirnya lagi.

Dengan uangmu kau hadirkan bahagia bagi orang lain, yang dengan itu hadirkan bahagiamu sendiri.

Bila kemudian “menghasilkan” merupakan perpanjangan wujud transaksi “jual-beli” menggunakan uang, bukankah uang dapat membeli kebahagiaan?

Uang bisa membeli kebahagiaan.

Gambar diambil dari: http://ela0327.typepad.com/photos/uncategorized/2008/03/25/money_can_buy_happiness.jpg
Gambar diambil dari: http://ela0327.typepad.com/photos/uncategorized/2008/03/25/money_can_buy_happiness.jpg

Benar, dengan uang kita dapat wujudkan keinginan kita, dan keinginan orang-orang di sekitar kita; orang-orang yang kita sayangi, orang-orang yang membutuhkan kita.

Dengan uang, kita belikan hal-hal yang hadirkan kepuasan tersendiri bagi mereka yang benar-benar membutuhkan itu, bagi mereka yang bahkan tidak miliki uang untuk penuhi apa yang mereka butuhkan, apalagi sekedar berharap penuhi apa yang mereka inginkan.

Salahkah bila saya masih percaya uang dapat membeli kebahagiaan? 🙂

Ada satu pertanyaan besar yang kemudian menggelayuti pikiran saya:

Bila uang benar-benar bisa membeli kebahagiaan, kebahagiaan macam apa yang bisa dibeli dengan uang?

Apakah semua “kebutuhan” dan “keinginan” yang terpenuhi itu adalah simbol kebahagiaan? Apakah definisi “bahagia” cukup terhenti pada “pemenuhan” apa-apa yang kita inginkan, apa-apa yang kita butuhkan? Apa-apa yang (kita rasa) orang lain inginkan, dan orang lain butuhkan?

Benarkah bahagia sesederhana itu?

Saya tak tahu. Tak pernah tahu.

Yang saya tahu, saya merasa bahagia tiap kali Ayah pulang membawa banyak buah tangan yang kesemuanya diperoleh dengan uang.

Yang saya tahu, saya bahagia  ketika melihat senyum anak-anak didik saya mengembang ketika saya berikan mereka hadiah yang kesemuanya saya peroleh dari uang.

Yang saya tahu, saya bahagia ketika Mbah-Mbah penjual gorengan di kampus saya menampakkan wajah sumringahnya ketika saya membeli beberapa dagangannya, yang juga saya lakukan dengan uang.

Yang saya tahu saya bahagia ketika bisa mentraktir teman-teman saya dengan uang saya sendiri, dan merasakan raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka.

Yang saya tahu, saya selalu merasa bahagia jika saya bisa “berbagi uang” untuk membeli “kebahagiaan” mereka -orang-orang yang saya sayangi, meskipun yang saya bagi tak seberapa nilainya.

Maka bagi saya, uang dapat membeli kebahagiaan. Bahagia yang sederhana saja. Bahagia tanpa definisi.

Namun masih ada satu pertanyaan lain yang cukup mengganggu pikiran saya.

Apabila uang dapat membeli kebahagiaan, apakah lantas kebahagiaan dapat dibeli begitu saja dengan uang?

Buat saya, kebahagiaan tak lantas dapat dibeli dengan uang.

Karena pada dasarnya uang hanyalah “alat” yang membantu saya wujudkan kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan itu sendiri adalah sesuatu yang sangat abstrak pada alam pikiran dan perasaan manusia, yang saya tak punyai kapasitas untuk mengerti, selain hanya mencoba memahaminya.

Dan uang bukanlah satu-satunya yang wujudkan bahagia itu.

Saya kembali berpikir.

Apakah kebahagiaan saat saya meraih beragam buah tangan dari Ayah saya adalah mutlak karena wujud buah tangan itu sendiri yang memikat hati saya hingga saya bahagia? Apakah buah tangan yang diperoleh dari uang yang dibelanjakan Ayah saya yang semata senangkan saya?

Ataukah ada hal lain yang tersirat yang hadirkan selaksa kebahagiaan di hati saya?

Mungkinkah saya bahagia karena kebaikan dan kasih sayang Ayah pada saya? Mungkinkah saya bahagia karena perhatian Ayah yang begitu besar pada kami anak-anaknya, yang kemudian diwujudkan dalam buah tangan itu?

Saya tak tahu. Tak pernah tahu.

Yang saya tahu, dengan maupun tanpa buah tangan, kepulangan Ayah selalu saya sambut dengan senyum ceria. Kepulangan Ayah selalu saya sambut dengan pelukan hangat dan rasa bahagia yang menyeruak dalam dada.

Saya kembali berpikir.

Apakah kebahagiaan anak-anak didik saya semata timbul karena hadiah yang saya berikan pada mereka? Ataukah bahagia itu muncul karena apa yang mereka lakukan (kerja keras mereka dalam belajar) berbuah manis? Ataukah mereka bahagia karena saya sebagai gurunya menghargai usaha keras yang mereka lakukan?

Sekali lagi saya tak tahu.

Yang saya tahu, dengan maupun tanpa hadiah itu, anak-anak didik saya selalu menjawab dengan wajah sumringah, “Menyenangkan sekali, Bu”, setiap kali saya bertanya apakah pelajaran hari itu menyenangkan buat mereka.

Saya kembali berpikir.

Tentang alasan demi alasan mengapa momen-momen bahagia itu ada.

Mengapa teman-teman saya bahagia setiap kali saya traktir?

Mengapa Mbah-Mbah penjual gorengan itu bahagia setiap kali dagangannya laris?

Mengapa anak-anak kecil itu selalu bahagia dengan hadiah yang saya berikan?

Mengapa saya selalu bahagia menyambut beragam buah tangan dari Ayah?

Mengapa diberi dan memberi selalu saja membahagiakan buat saya?

Pada akhirnya saya mengerti, ALASAN dan SARANA membuat seseorang bahagia adalah dua hal yang berbeda. Bahagia itu ada dalam hati: pada rasa cukup, rasa puas, rasa penerimaan. Sedangkan sarana mencapai bahagia itu bermacam-macam. Uang hanyalah satu dari sekian banyak opsi mencapai kebahagiaan.

Maka, UANG… Tak pernah bisa saya jadikan uang sebagai ALASAN untuk berbahagia.

Bukan pada banyaknya uang yang saya miliki saya kemudian berbahagia. Tapi bagaimana kemudian UANG itu saya jadikan SARANA untuk berbagi kebahagiaan pada yang lain. Bagaimana uang itu saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan. Disitulah saya temukan bahagia. Bahkan tanpa uang pun, saya masih bisa berbahagia karena saya miliki “harta” lain yang jauh lebih berharga: orang-orang yang saya sayangi. Dan tanpa uang pun saya masih bisa bahagia, karena saya memiliki Dia yang akan mencukupkan segalanya buat saya.

Maka kemudian, pertanyaan itu terjawab sudah: Bisakah uang membeli kebahagiaan?

Bisa. Sangat bisa. Selama uang itu saya belanjakan di jalan yang baik yang diridhoi-Nya. Selama uang itu saya jadikan sarana penyambung kebaikan demi kebaikan. Insya Allah.

Gambar diambil dari: http://fishingbuddha.com/money-can-buy-happiness/
Gambar diambil dari: http://fishingbuddha.com/money-can-buy-happiness/

 ***

Tulisan ini semata-mata hanyalah pendapat yang sangat subjektif dari saya. Masih perlu belajar banyak untuk memahami perspektif demi perspektif yang berbeda dalam setiap interaksi dan komunikasi. Semoga ada manfaat yang bisa diambil, dan mohon dimaafkan apabila terdapat banyak hal yang membuat kurang berkenan.

Wallahu a’lam bisshawab.

*Mari terus saling mengingatkan dalam kebaikan. 🙂

-SiFa-

Advertisements

2 thoughts on “Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?

  1. Money can or cannot buy happiness it depends on us, I think. We can differentiate the type of happiness as material and non material happiness. That’s all I can say regarding to this issue..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s