Ketika Dilla Bertanya Tentang Cinta

Aku berusaha keras menyembunyikan getar di tiap suaraku karena menyebut-Nya sebagai cinta ku adalah hal yang jauh lebih mudah diucapkan daripada dijalani. Mencintai-Nya tak pernah semudah itu buatku. Namun Dilla harus tahu. Di antara kesemuan cinta pada manusia, ada cinta yang maha kekal yang tak kan pernah mampu tergantikan oleh apapun di dunia ini. Cinta Sang Maha Cinta. Aku ingin Dilla-ku tahu, selayaknya Cinta Sang Maha Cinta ini berbalas dengan cinta kita pada-Nya, meskipun cinta kita yang masih retak-retak ini tak pernah dapat disandingkan, diperbandingkan dengan cinta-Nya yang tak berbatas.

“Tante Sifa cintanya sama siapa?”
“Eh?”

Sedikit tersentak kutatap lekat bening mata keponakan kecilku itu. Meminta penjelasan apakah barusan aku tak salah dengar. Maklum, tinnitus-ku sering kambuh sesuka hati. Kalo sudah begitu, aku tak bisa mempercayai pendengaranku 100% lagi. Keponakan kecilku masih menatapku dengan binar penuh keingintahuan. Cinta. Dia bertanya padaku soal cinta… Kupikir ini lucu sekali, anak sekecil dia menanyakan hal serumit ini.

“Mmm, kasi tau ga yaa?” aku mencoba menggodanya. Berharap dia tak bertanya lagi. Aku belum menemukan jawaban pas yang sekiranya bisa dicerna anak sebelia Dilla. Lebih dari itu, aku bahkan tak yakin apa jawabanku.

“Kasih tau dong Tante, Dilla kan pengin tau… Tante Sifa cinta sama siapa?” sambungnya dengan kepolosan yang sama. Sorot ingin tahu yang sama. Ketulusan yang sama yang terpancar di wajah imutnya itu. Ah, baiklah, aku selalu luluh di hadapan anak kecil yang merajuk seperti ini…

“Allah. Tante cintanya sama Allah,” jawabku sambil tersenyum.

Kali ini aku sedikit tak percaya dengan apa yang barusan kuucapkan. Aku tahu, detik berikutnya Dilla akan bertanya “kenapa”, dan aku belum punya penjelasan yang bagus untuk pertanyaan berikutnya itu. Semua meluncur begitu saja dari mulutku. Jawaban yang kuharap benar-benar tulus dari lubuk hatiku yang terdalam. Jawaban yang sebenarnya kupahami cukuplah rumit untuk dicerna anak sekecil dia. Benarkah serumit itu?

“Kenapa Tante cinta sama Allah?” Tepat seperti dugaanku! Dilla bertanya mengapa. Untuk sepersekian detik ku putar otak, dan aku tak punya jawaban lain selain turuti perasaanku saja, akhirnya.

“Karena Allah baiik banget sama Tante.. Allah yang ngasih tante hidup, ngasih Tante mata ini jadi bisa ngeliat Dilla yang imut.” Kulihat Dilla tersenyum menggemaskan. Dia selalu suka kugoda seperti ini. “Tante dikasih telinga jadi bisa denger suara Dilla. Dikasih kaki biar bisa jalan. Tante masih bisa bernapas. Dilla juga, kan? Dikasih mata jadi bisa ngeliat Tante yang cantik ini…” Kali ini aku mencoba berkelakar yang kemudian sukses ditanggapi keponakan kecilku. “Ah, Tantee bisa aja… Tante itu imuuut.” Gemas, dia mencubit kedua pipiku. Haha. Aku tak bisa menahan tawa kali ini. Sedari tadi ku coba redakan tegang yang mengiringi tiap jawaban yang terlontar begitu mulus dari lisanku ini. Lisan yang seringkali berbalut dusta ini. Lisan yang seringkali kering dari ingatan kepada-Nya.

Aku berusaha keras menyembunyikan getar di tiap suaraku karena menyebut-Nya sebagai cinta ku adalah hal yang jauh lebih mudah diucapkan daripada dijalani. Mencintai-Nya tak pernah semudah itu buatku. Namun Dilla harus tahu. Di antara kesemuan cinta pada manusia, ada cinta yang maha kekal yang tak kan pernah mampu tergantikan oleh apapun di dunia ini. Cinta Sang Maha Cinta. Aku ingin Dilla-ku tahu, selayaknya Cinta Sang Maha Cinta ini berbalas dengan cinta kita pada-Nya, meskipun cinta kita yang masih retak-retak ini tak pernah dapat disandingkan, diperbandingkan dengan cinta-Nya yang tak berbatas.

Aku ingin Dilla-ku mengerti, cinta tak melulu rasa yang dipahami sebagai rasa suka pada lawan jenis. Cinta sejati lebih dari itu. Cinta kepada-Nya lah yang mengantarkan pada turunan-turunan cinta kepada makhluk-Nya: kepada Rasul-Nya, kepada para sahabat, kepada Ibu dan Bapak, saudara, sahabat, suami, istri, anak. Kepada semua manusia. Kepada tumbuhan dan hewan. Kepada semua makhluk di bumi cinta-Nya. Cinta haruslah dimaknai secara luas olehnya.

“Dilla cinta juga nggak sama Allah?” kali ini aku ganti bertanya.
“Hu’um.” Jawabnya mengangguk. Senyum di wajahnya semakin membuatnya tampak manis.
“Kalo Dilla cinta sama Allah, yuk kita shalat…”

Dilla menyambut ajakanku dengan antusias. Semangat yang selalu ada padanya selalu mengingatkanku pada diriku yang dulu. Aku kecil yang selalu bersemangat menyambut hikmah di tiap lembar kehidupan baru. Bukan aku yang sekarang. Yang penuh resah, gelisah, dan sering kehilangan arah. Anak kecil memang selalu tahu bagaimana “mengajarkan” sesuatu pada orang dewasa… Menit dan jam berikutnya aku dan Dilla telah larut menekuri bahasa-bahasa cinta-Nya.

Mungkin Dilla belum mengerti. Tapi aku ingin Dilla tahu tantenya ini sedang mencoba belajar mencintai Rabb-nya, dengan cinta yang masih jauh dari sempurna. Tantenya ini hanya mencoba genapkan syukur atas tiap karunia-Nya yang tak terbilang. Aku ingin Dilla-ku bisa menjadi pengingat untukku jika suatu hari nanti aku terlupa pada cinta yang pernah kugelorakan dalam dada. Pada rindu yang kupaksa terus bertepi pada muara ridha-Nya. Aku ingin kelak Dilla-ku mengingatkanku bahwa di hati ini pernah ada, dan hanya ada satu cinta untuk Dia yang pantas dicinta.

Aku tak pernah bisa mendefinisikan cinta seperti apa. Dan masih selalu bingung untuk menjawab jujur cintaku untuk siapa. Tapi hati kecilku tak bisa memungkiri bahwa dalam ketiadaan wujud-Nya di hidupku, Ia selalu hadir dalam berbagai bentuk yang kerap tak bisa kumengerti. Dia selalu ada dalam tiap pikir dan dzikirku, dalam aliran darah dan denyut nadiku, dalam denyut jantung dan getar hatiku. Dia, yang meskipun masih tak tampak dalam pandangan namun selalu dapat kurasa hadirnya. Aku hanya tak tahu bagaimana aku bisa berhenti mencintai-Nya setelah semua yang telah diberikan-Nya padaku. Kesemuanya tanpa kupinta.

Aku memang perempuan yang selalu luluh atas pemberian demi pemberian tak berkesudahan. Perhatian demi perhatian tak berbilang. Aku selalu luluh atas cinta tulus tanpa pamrih, kasih sayang tanpa jeda. Dan Rabb-ku, hanya Dia yang selalu bisa berikan semua itu. Di antara kedurhakaanku, di tetumpukan maksiat yang kutimbun satu demi satu, di antara gunung dosa yang terus kubangun, Dia tak pernah henti limpahkan sayang-Nya. Maka, harus bagaimana ku membalasnya? Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada-Nya? Rabb-ku seharusnya lah menjadi tempat di mana aku jatuh cinta, lagi, dan lagi, berkali-kali. Hanya Dia sebenar-benar muara di mana cintaku mesti ditambatkan..

Semoga Dia tahu, bahwa sedurhaka-sedurhaka hambanya ini, masih ada cinta tak sempurna yang berusaha dieja meski dengan terbata. Masih ada cinta tak sempurna yang ingin disempurnakan untuk-Nya saja. Semoga Dia mengerti..

***

Tuhanku,
Dalam termangu, aku masih menyebut nama-Mu.
Biar susah sungguh, mengingat Kau penuh seluruh.
Caya-Mu panas suci,
Tinggal kerdip lilin di malam sunyi.

Tuhanku,
Aku hilang bentuk,
Remuk.

Tuhanku,
Di pintu-Mu aku mengetuk.
Aku tak bisa berpaling..

[DOA, Chairil Anwar]

***

Selamat Berpuasa. Selamat mengeja cinta untuk-Nya. 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Ketika Dilla Bertanya Tentang Cinta

  1. Dalam hal satu ini filsuf islam dan kristiani masih sepaham, bahwa cinta murni memang adalah cinta dari dan kepada-Nya.. Nice work! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s