Kelelawar Malam Ini: Buta Dalam Benderangnya Cahaya

“Terlalu lama berada dalam kegelapan dapat membuatmu buta akan cahaya yang terang benderang”

Terkadang pesan yang Ia sampaikan mengambil banyak wujud dalam penerimaan kita.
Seperti kelelawar yang menyapa lelapku malam ini. Kepak sayapnya begitu mengerikan, hingga memaksa mata yang tadinya terpejam kemudian membuka, bersamaan dengan keringat dingin yang sekejap saja menyergap ke seluruh tubuh. Memaksaku berlari menghindar dari terjangannya yang membabi-buta.
Kelelawar malam ini menyampaikan beberapa pesan padaku. Pesan yang mungkin berulang kali Ia kirimkan, namun ketidakpekaanku melenyapkan segala.

“Hidup dalam gelap (terkadang) membuatmu silau akan cahaya.”

Seperti kelelawar malam ini, yang terjebak dalam benderang cahaya lampu kamar; terseok, terbang membabi-buta, hingga akhirnya menyungkurkan diri, menjerembabkan dirinya ke lantai. Ia tersesat tak temukan jalan keluar, jalan kembali menuju asalnya.
Aku kesal dan dibuatnya ketakutan. Namun aku tak bisa menyalahkan kelelawar malang ini. Ia hanya tak mampu kenali jalan dalam cahaya yang terlampau terang, yang menyilaukan pandangannya.
Kelelawar malang ini hanya terbiasa hidup dalam gelap. Penglihatannya hanya mampu berfungsi dengan baik dalam kegelapan. Bukan dengan intensitas cahaya seterang lampu 25 watt.
Maka seperti kita yang terbiasa melihat dengan baik dalam terang, kegelapan yang menyeluruh yang datang begitu tiba-tiba tentu butakan kita.

Adalah cahaya yang membantu kita temukan petunjuk demi petunjuk yang menuntun kita pada jalan pulang, jalan kembali ke rumah yang kita tuju.
Adakah kita mampu berjalan dalam gelap tanpa seberkas pelita yang menjadi penerang? Aku ragu.
Adakah kita mampu selamat sampai tujuan sementara tak ada satupun petunjuk jalan yang kita pegang dalam pengembaraan di rimba yang maha luas ini? Tidak, bagiku.
Kita selalu butuhkan petunjuk jalan, dan pelita sebagai penerang.
Maka masihkah hendak membutakan diri dalam gelap dan berjalan terseok dengan tanpa satupun petunjuk dalam genggaman? Buatku, itu pilihan.
Dalam ketiadaan cahaya, hanya kegelapan yang meyertai. Hanya kegelapan yang menang atas kita.
Maka aku memilih mencari cahaya itu, pelita yang kan jadi penerang jalanku.

Kelelawar malang ini tak mampu meretas jalan lantaran buta akan cahaya yang menyilaukan.
Kegelapan terlanjur menyelimuti seluruh hidupnya. Ia hidup dalam pekatnya malam. Ia melihat dalam ketiadaan cahaya.
Terkadang aku ingin menjadi seperti kelelawar ini saja: mampu melihat dalam ketiadaan cahaya.
Namun aku tahu, bahwa takdirku adalah hidup dalam keberadaan cahaya, bukan dalam ketiadaannya. Seperti takdir sang kelelawar yang hidup dalam ketiadaan cahaya, bukan sebaliknya.
Pada hakikatnya, aku dan kelelawar ini sama-sama diberi ‘penglihatan’, yang hanya dapat difungsikan dengan baik sesuai takdir-Nya. Kupikir ini lah yang seringkali luput dari pemahamanku.

“Hidup dalam gelap (terkadang) membuatmu silau akan cahaya.”

Bila cahaya-Nya yang kucari selama ini tak jua kutemukan
Mungkinkah bukan lantaran ketiadaan cahaya itu sendiri?
Namun lantaran aku menenggelamkan diri begitu lama dalam gelap
Hidup dalam ketiadaan cahaya-Nya
Hingga saat cahaya itu datang menyapa, aku silau dibuatnya, aku justru dibutakan olehnya?

Jika seorang buta dapat ‘melihat’ melalui nalurinya,
Jika seekor kelelawar mampu melihat dalam gelap lantaran penglihatan yang dianugerahkan oleh-Nya,
Bukankah seharusnya diri ini pun mampu melihat dalam gelap dan pekat yang menyelimuti?

***

Allah…
Bukanlah gelap di mata, tapi gelapnya hati yang menjadikanku tersesat dari jalan menuju-Mu.
Bukanlah pekatnya malam yang menakutkan yang menjadikanku hilang arah.
Namun pekatnya hati, gelapnya nurani yang tak mampu singkapkan jalan menuju-Mu,
Lantaran ketiadaan cahaya-Mu dalam hati hamba…
Faghfirlana, ya Allah…

Bila masih ada keizinan dari-Mu,
Semoga cahaya-Mu berkenan perlahan menyapaku sekali lagi,
Tanpa terangnya yang menyilaukan, yang membutakan.
Cukup terang yang menjadi penerang,
Yang membantu hatiku ‘melihat’ lagi.
Bila tak mampu kupinta yang serupa itu,
Haruskah kupinta hati lain pengganti hati ini, Rabbi?
Astaghfirullahal’adziim…

***

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nuur: 35)

[Kamar Putih. 18 Agustus 2013. Lewat Tengah Malam.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s