A Letter to Sky

I
Langit,
Hari ini kau cerah sekali, jauh lebih cerah dari kemarin.
Entah mengapa kau selalu bertambah cerah saja tiap harinya.
Ah, baiklah, mungkin ini hanya perasaanku saja.
Perasaanku yang kini kian cerah jika melihatmu.
Perasaanku yang entah bagaimana selalu bahagia hanya dengan memandangmu.
Meski masih hanya dari kejauhan.

Aku tak tahu kapan tepatnya aku mulai suka memanggilmu “Langit”.
Mungkin sejak aku menjadi lebih suka memandang langit malam dengan bintang-bintangnya,
Dan entah bagaimana bintang-bintang itu satu-persatu menjelma dirimu.
Atau mungkin sejak langit menjadi bertambah cantik dengan awan-awannya yang biasa,
Hanya karena aku membayangkan gumpalan awan-awan itu mewujud dirimu.
Ah, aku pasti terlalu larut dalam perasaanku padamu,
Hingga menyebutmu sebagai Langit, yang tak pernah berhenti membuatku jatuh hati.

II
Ingatan-ingatan bagiku, Langit, selalu menjadi teka-teki.
Sebagian memilih tinggal, terkadang memintanya dengan paksa meski kuusir berulangkali.
Sebagian yang lain pergi sendiri, meski seringkali kubujuk untuk kembali.
Namun terlebih sering ingatan itu tetap berdiam di sana, karena aku yang menjaganya untuk terus ada.
Untuk terus hidup mengiringi hidup yang ingin terus kuhidupi.
Dengan caraku sendiri, tentu saja.
Ingatan tentangmu, Langit, menemukan dua cara untuk berdiam di sana:
Ia meminta dengan paksa, dan aku, secara sadar, juga memilih menjaganya untuk tetap tinggal di sana.

Tapi, Langit, aku tak pernah bisa mengingat kapan tepatnya ‘pertemuan’ku denganmu seluruhnya menjadi ‘lain’.
Tiba-tiba saja ada yang berbeda, dan aku tak mengerti harus dengan apa mengungkapkannya.
Ah, Langit, ruang yang sama memang tak selalu merekatkan kita, ya?
Kita –entah bagaimana- justru bertemu dalam ruang yang serba berjarak.

Waktu memang selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan kita, kurasa.
Ia mempertemukanku denganmu di saat yang terlalu tepat.
Saat-saat kosong, saat sepi dan sendiriku.
Kau datang begitu saja mengisi kekosongan itu, Langit.
Dan begitu saja, aku merasa lengkap dengan hadirmu.

Kau serupa candu,
Yang tiadamu membuatku meradang, merindu.

III
Bagiku, Langit, kau adalah pencipta.
Kau mencipta lagu-lagu yang mengiringi denyut nadi kehidupan.
Lagu-lagu yang selalu ingin kudengar, yang selalu kunikmati alunannya, yang melodinya selalu kuinginkan mengiringi tiap tarikan nafas dan detak jantungku.
Lagumu, yang selalu menjadi alasanku menikmati hidup yang sepenuhnya menjadi baru.

Kau pun mencipta cerita-cerita.
Cerita fiksi dan nyata yang kau ramu menjadi satu.
Cerita-cerita yang membuatku tersenyum, terharu, namun lebih sering tergugu, tanpa kau tahu.
Ceritamu, yang selalu mengantarku pada dunia imajiku:
Aku ingin di kehidupan mendatang aku menjadi tokoh utama dalam cerita-ceritamu itu.
Yang membasuh lukamu, yang temani sendirimu.
Pun dalam lagu, aku selalu ingin menjadi melodi, menjadi nafas dalam setiap lagumu.

Namun lagu dan ceritamu, Langit, semua menjelma harap yang sulit menemukan perwujudannya untukku.
Dalam tiap lagu dan ceritamu, aku tahu, tak pernah ada aku.

IV
Mungkin memang kita tertakdirkan seperti langit dan bumi:
Saling melihat tapi tak mungkin menyatu.
Keberjarakan di antara kita seharusnya membuatku mengerti,
Aku hanya mampu memandangmu dari jauh.
Kau, Langit, tak kan pernah mampu kurengkuh, sampai kapanpun .

Seperti sang langit, kau mengisi segala kekosonganku.
Kau hadirkan awanmu, di saat aku butuh tempatku bernaung.
Kau guyurkan hujanmu untuk leraikan dahagaku, hilangkan gersangku.
Kau undang sang pelangi untuk mewarnai hariku yang sempat kelabu.
Kau bawa bintang-bintangmu untuk menjemputku memasuki dunia imaji tanpa batas,
Dimana aku menjadi salah satunya, bersinar menghiasimu.
Dan kau hadirkan ia, sang rembulan, yang seketika mengubah inginku:
Aku ingin menjadi rembulan yang tampak paling cantik menyinarimu, Langit,
pun dengan hadirnya bermilyar bintang di sekelilingmu.
Aku ingin menjadi Rembulan yang purnama, yang selalu mampu mencuri hatimu.

Namun rupa-rupanya aku tetaplah serupa bumi.
Kehadiranku tak pernah sepenting itu buatmu.
Aku mungkin bisa merasakan kehilangan yang amat sangat dengan pergimu.
Tapi untukmu, Langit, ada dan tiadanya bumi tak pernah menjadi beda.
Kau tetap menjulang di sana, tak terengkuh, tak terjangkau.

V
Ah, Langit,
Kupikir urusan perasaan ini bisa menjadi sangat sederhana.
Bukankah sejatinya cinta adalah melepaskan?
Tapi aku bahkan tak mengerti bagaimana harus melepaskan, sementara kau tak pernah mampu kugenggam?

Mungkin kau memang hanya tertakdir menjadi jembatan, tak pernah menjadi tujuan.
Kau adalah jembatan menuju hati dan jiwaku yang baru.*
Kau adalah jembatan yang semoga kini telah sampaikanku pada ujungnya.
Dan di ujung jembatan ini aku mengerti bahwa tak pernah ada yang salah dengan cinta.

Kita tak pernah mencintai orang yang salah, Langit.
Bila ada satu-satunya hal yang salah,
Tentulah itu pemahaman kita yang belum utuh tentang cinta.

VI
Cintaku padamu, Langit,
Yang ku tahu tak akan pernah hilang.
Mungkin ia hanya akan bertransformasi menjadi sebentuk cinta yang lain.
Cinta dengan sepenuh penerimaan.

Dan kelak seperti yang akan kau saksikan, Langit,
Dalam buku kehidupanku, namamu selalu tertulis di sana.

Kau yang aku cintai, begitu saja.

(Rumah dengan banyak jendela. Oktober 2013. Sebelum hujan menyapa bumi Argawana)

*Quotes from a friend, AK

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s