Recalling the Forgotten One (Part 1)

“Buatmu, apa itu perjuangan?”

Bukankah hidup sejatinya adalah serentetan perjuangan yang tak putus?
Perjuangan mencapai mimpi-mimpi, meraih cita.
Atau perjuangan untuk sekedar bertahan.

Sejauh apa aku melangkah, sejauh apa aku berlari menjemput mimpi, sejauh apa aku bertahan;
Sejauh apa aku telah berjuang?

***

Memori itu satu persatu terpanggil kembali…

Kau tentu masih ingat Ayah, bagaimana putri kecilmu ini pernah berjuang untuk dapat tegak berdiri di atas kakinya sendiri, berjuang menapak satu demi satu langkah menuju padamu, menuju pada Ibu.

Mungkin belajar berjalan adalah salah satu fase paling sulit dalam hidup ya… Kata Ibu, aku mulai bisa berjalan di usia 9 bulan, benarkah Ayah? Tapi teriakan gegap-gempita orang-orang di sekitarku mengejutkanku, dan entah bagaimana aku tak mau berjalan lagi hari-hari berikutnya. Butuh hitungan bulan untuk kemudian meredakan shock, untuk membangun keberanian menjejak langkah kembali.

Aku tak tahu apa yang salah dengan teriakan gembira orang-orang di sekitarku itu? Apa karena ‘keras’nya volume suara mereka belum mampu ku terima sebagai luapan bahagia sekaligus sebentuk apresiasi di usiaku yang masih teramat belia? Apakah suara se’keras’ itu lalu ku terjemahkan sebagai bahasa kebencian, alih-alih menganggapnya bahasa cinta?

[Ah, hari ini orang justru ramai berteriak Ayah…

Aku rindu pada sunyi, pada sepi.
Riuh orang meneriakkan kebenaran.
Mengklaim ini keliru, itu terlalu bodoh untuk ditiru.

Riuh. Gemuruh.
Riuhnya justru tak ku rasa di telinga, tapi di dada, Ayah…]

Fase berikutnya yang masih terekam jelas adalah saat di mana aku belajar naik sepeda. Bisa dibilang ini fase paling berdarah-darah yang pernah kualami, bukan? 😀

Kadang aku takjub sendiri, Ayah, bagaimana bisa aku sekuat itu? Manusia memang bisa sangat ‘gila’ ya ketika sampai pada antusiasme mencapai sesuatu. Seperti ‘gila’nya aku yang tak peduli luka dan darah di sana-sini, terus saja melanjutkan upaya menyeimbangkan diri di atas sepeda. Maka keberhasilan mengayuh sepeda untuk pertama kalinya adalah akumulasi kepuasan dan kebahagiaan yang melebihi luapan bahagia ketika kau menghadiahkan sepeda baru untukku di hari berikutnya.

[Aku rindu aku yang kuat seperti dulu, Ayah.
Yang hanya perlu waktu sebentar untuk menangis mencecap sakit,
dan selanjutnya bangkit teruskan perjuangan.
Yang meskipun tahu bahwa aku mungkin akan jatuh lagi,
lebih memilih berhati-hati tanpa perlu dihantui cemas yang justru merusak kenikmatan bersepeda itu sendiri…]

Lalu, aku sampai pada banyak fase yang seluruhnya terekam sebagai rentetan kebahagiaan demi kebahagiaan yang saling menyusul. Tulusnya kasih sayang keluarga, indahnya persahabatan. Masa kecil yang meskipun penuh ‘pemberontakan’ dan kenakalan ala anak-anak, selalu saja penuh tawa dan tangis bahagia.

Ah Ayah, aku bahkan tak perlu mengulang lagi masa-masa itu. Karena dengan mengingatnya saja, seperti yang sekarang sedang kulakukan, semua sekejap menjelma nyata.
Aku bahagia.

Lalu sampailah aku pada fase yang pernah terlupakan karena memang ingin ku lupakan. Fase di mana hidupku, kebahagiaanku, seluruhnya ‘berubah’. Seluruhnya menjadi lain.
Mungkin ini yang orang-orang namakan ‘titik balik’ itu…

Gambar dari: http://duculabadia.blogspot.com/2011/11/gagal-dalam-mencoba-hal-baru-bukan.html
Gambar dari: http://duculabadia.blogspot.com/2011/11/gagal-dalam-mencoba-hal-baru-bukan.html
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s