Pulanglah, Mas! (1)

Aku masih merekam jelas perkataan Ibu belasan tahun silam itu. Ada yang janggal dari cara Ibu menyebut Mas dengan ungkapan semacam itu: “Putrane Bapake”. Mengapa Mas hanya berlabel anak Bapak? Bukannya Mas juga anak Bapak dan Ibu? Mengapa di kartu periksa dokter kepunyaanku tertulis aku anak pertama dari 2 bersaudara? Dikemanakan Masku?

“Lho, kamu anak kedua to? Berarti punya kakak?”
“Hee… Iya, Masku masih di Papua.”
“Wah, enak ya punya Mas. Aku dari dulu pengin banget punya kakak laki-laki.”
“Hehe.”

Menyenangkan ya punya kakak…
Aku juga ingin sekali merasakan enaknya punya kakak. Karena, apa bedanya punya kakak yang ngga pernah ada buat kamu, sama ngga punya kakak sama sekali? Apa bedanya punya seseorang yang berlabel ‘saudara’, ‘keluarga’, tapi ngga pernah sayang sama kamu, sedikitpun?

***

“Putrane kalih niki?”
“Nggih, niki sing ageng, niku sing alit. Sini Ndhuk, salim sama Bulik.”
“Lha sing niku wau sinten, Bu?”
“Putrane Bapake.”
“Oh…”

Aku masih merekam jelas perkataan Ibu belasan tahun silam itu. Ada yang janggal dari cara Ibu menyebut Mas dengan ungkapan semacam itu: “Putrane Bapake”. Mengapa Mas hanya berlabel anak Bapak? Bukannya Mas juga anak Bapak dan Ibu? Mengapa di kartu periksa dokter kepunyaanku tertulis aku anak pertama dari 2 bersaudara? Dikemanakan Masku?

“Mas anak Bapak, anak Ibu juga.”
“Tapi kenapa tadi Ibu bilangnya Mas anak Bapak saja?”

Aku terus mendesak Ibu untuk menjelaskan yang sebenarnya. Aku bingung. Di kartu identitas yang aku punya selalu tertulis aku anak pertama. Sejauh ingatan yang bisa kuputar ulang, aku tak pernah punya teman bermain di waktu kecil, yang orang-orang sebut kakak itu. Kakakku adalah sosok yang tiba-tiba datang, yang tiba-tiba saja memaksaku memanggilnya ‘kakak’. Semua tentang kakak serba misteri. Sungguh tak banyak yang ku tahu tentangnya.

Temanku Ulil bisa tiap hari bertemu, bermain, dan tak jarang berkelahi dengan Mas Dedi-nya itu. Rini bisa teriak-teriak memanggil Mas Agung-nya yang jahil tapi jago sekali menggambar itu. Priska sering sekali menangis karena rebutan main gameboy sama Mas Haris-nya itu, tapi segera akur saat ritual ‘bikin rujak bersama’ tiba. Nur bisa tersenyum bahagia menggenggam piala MTQ nya berkat bantuan Bang Syahril-nya yang tampan dan pandai mengaji itu. Reni si bocah jahil itu bisa nyengir bahagia karena selalu ada Kak Dedi Besar yang siap membelanya kapanpun itu. Sedang aku?

Aku mengeja nama kakak dari lembaran kartu-kartu lebaran yang dikirimnya tak mesti setahun sekali. Ada namanya tertulis di situ. Nama yang dipahatnya dalam tulisan kaligrafi latin yang diam-diam coba kutiru. Ada juga sketsa masjid yang dibuatnya menghias tepi kartu lebaran itu. Manis. Waktu itu kupikir kakakku keren sekali, tulisan dan sketsanya saja sebagus ini. Hehe.

Setelahnya aku tahu kalau kakak sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Jayapura. Kakak seorang calon insinyur. Dia mengambil jurusan teknik sipil, jurusan yang sebenarnya pilihan Bapak, bukan pilihannya sendiri. Aku sendiri tak pernah tahu apa yang sebenarnya disukainya. Apa yang sebenarnya menjadi pilihannya.

***

“Jadi, Mas itu kakak tiriku, Bu?”
“Iya… Tapi anggap saja Mas seperti kakak kandungmu, ya. Sayangi dia seperti kamu sayang sama Adek.”
“Iya, Bu… Tapi kenapa Ibu ngga pernah bilang?”

Akhirnya terjawab sudah kebingunganku. Kakak memang tak pernah ‘terlahir’ sebagai kakak kandungku. Ia hadir begitu saja, kuterima sebagai kakakku. Sekalipun hari itu aku akhirnya mengerti dia ‘hanyalah’ kakak tiriku, aku tahu kalau aku mesti menyayanginya sebagai kakak kandungku. Ia anak Bapakku juga, sebagaimana aku. Maka jadilah aku 3 bersaudara. Aku merasa lengkap punya seorang kakak dan seorang adik; yang menjaga, dan mesti kujaga.

***

“Lho ini buat apa, Dek? Jualan bensin juga to?” Mas memandang takjub ke pondok kecil depan rumah yang kami gunakan untuk menjual bensin eceran.
“Hu’um,” aku mengangguk lemah.
“Kamu itu lho, harusnya malu sama adekmu ini. Anak cewek tapi gesit. Kamu di sana enak-enakan, di sini adekmu jualan bensin berat bawa bronjong begitu. Belanja ke pasar nganter Ibu. Panas-panas. Demi bantu keluarga…”

Sanak saudaraku mulai menceramahinya lagi. Entah ini sudah ceramah orang ke berapa yang mesti ia dengar hari ini. Ku pikir dia memang pantas ‘dimarahi’ seperti itu. Ke mana saja dia selama ini?

Tanpa kusadari bulir-bulir bening sudah menggenang di kedua mataku. Tiba-tiba aku teringat pada sorot mata Bapak tiap akan melepasku pergi membeli bensin. Sambil membenahi bronjong dan menata letak kedua jerigen yang bervolume masing-masing 25 liter itu, Bapak selalu mengatakan hal yang sama, “Ndak papa to, Ndhuk? Hati-hati ya di jalan…” Meski sebenarnya aku tahu, terlalu banyak hal yang ingin Bapak ungkapkan lewat perkataannya itu. “Kamu nggak malu kan mesti berjualan seperti ini? Maafkan Bapak ya yang membuat kamu mesti berjualan seperti ini. Maafkan Bapak yang belum bisa memenuhi keinginan-keinginanmu seperti anak seusiamu yang lain. Maafkan Bapak karena kamu mesti menjalani kehidupan yang keras seperti ini…”

Aku selalu berpura-pura tegar menjawabnya. “Wah, Bapak meragukan kemampuanku ya? Gini-gini aku lebih kuat dari anak-anak cowok itu lho, Pak. Aku juga sudah menjelajah sampe pelosok Purwantoro sana motoran sendiri, masa’ cuma beli bensin ke situ saja ngga berani? Hehee…” kusembunyikan tangis dalam tawa yang kubuat sealami mungkin. Bapak cuma tersenyum. Aku tahu betul senyum itu mengatakan apa: “Iya, Bapak tahu kamu hebat, Ndhuk.”

***

Aku sudah lama lupa kalau aku punya kakak. Kakak yang mestinya menjagaku, yang mestinya bisa menjadi tempatku bersandar, yang mestinya bisa kuraih tangannya kapan pun aku butuh. Aku lupa rasanya punya kakak. Atau sebenarnya aku tak pernah benar-benar punya?

Seenak hati kakak pergi. Tak ada kabar berita. Bapak menjadi sakit-sakitan karena terus-menerus memikirkan anak laki-laki satu-satunya yang hilang. Tega sekali dia. Bertahun-tahun aku bergulat dengan keadaan yang menjadi semakin tak ramah. Berada dalam himpitan ekonomi tapi terus berjuang menghadirkan senyum di wajah Bapak dan Ibu lewat prestasi-prestasi di sekolah, satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan untuk mereka. Apa lagi yang aku punya? Lalu, di mana dia yang menyebut dirinya kakak?

Aku menyimpan tangisku sendiri. Ada perasaan tak menentu tiap melihat teman lain bisa mendapat ini-itu yang mereka mau. Teman-teman yang cantik-cantik. Ah, aku bahkan tak punya waktu untuk merawat diri. Yang ada di pikiranku adalah bagaimana bisa menjadi anak yang membanggakan untuk Bapak-Ibu.

Aku belajar keras, berjuang keras. Urat maluku sudah kuputus. Pulang sekolah adalah waktunya membantu Ibu berjualan nasi kucing dan es teh di sekitar emperan kantor Bapak. Menenteng termos, membawakan baki yang penuh berisi gorengan. Sesekali aku mesti berlari bolak-balik ke rumah membawakan barang-barang yang lupa Ibu bawa. Jika Ramadhan tiba, aku membantu Ibu membuat kue-kue lebaran pesanan rekan kantor Bapak. Semua kujalani. Namun, yang paling menyesakkan adalah tiap kali aku melihat Ibu ‘bantu-bantu’ masak untuk acara di kantor Bapak. Semua hanya demi mengumpulkan uang demi sesuap makanan yang halal kami makan. Demi mencukupi kebutuhan sekolah kami, anak-anaknya. Ah, Ibu… Ibuku tak pernah menjadi ‘pembantu’ sebelum ini. Ada perih yang tiba-tiba menusuk-nusuk dadaku… Tapi mengapa mesti malu jika semua yang kami lakukan ini halal? Mengapa mesti malu jika semua yang kami lakukan ini bukanlah suatu dosa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s