Ketakutan-ketakutan

Nanti di hari akhir, kita masih saling mengenal nggak ya Cint?

 

 

Hari ini aku bahagia sekali.

Bahagia yang menyeruak ini terkadang membuatku takut sendiri. Takut jikalau kebahagiaan yang berlimpah ini hanyalah warna lain dari selimut kesedihan yang mungkin sebentar lagi akan ku sapa dan peluk rapat-rapat. Seperti biasanya.

 

Hari ini, Al, aku kembali diingatkan satu hal yang sama-sama sudah kita ketahui sejak dulu:

“Manusia seringkali menciptakan ketakutan-ketakutannya sendiri. Ketakutan yang menghantui. Ketakutan yang sebenarnya tak pernah ada, dan tak perlu ada.”

 

Aku bahagia karena hari ini aku berhasil membunuh salah satu ketakutan ciptaanku sendiri itu.

Ah, konyol sekali rasanya.

Setiap hari aku bersusah-payah mencari penyembuh setiap luka, setiap sakit; sementara aku terus memupuk dan merawat ketakutan demi ketakutan yang justru meracuni, menggerogoti, membunuhku perlahan.

 

Aku tahu Al, ada kalanya ketakutan-ketakutan itu mesti kita pelihara. Memelihara sadar, kata mereka.

Ketakutan-ketakutan lah yang seringkali menjadi pengingat keinsafan diri, pengingat ketakberdayaan diri, pengingat bahwa sejatinya kita ini bukanlah siapa-siapa, tanpa-Nya.

 

Aku pun ingin tetap memelihara ketakutan dalam diriku, Al.

Tapi bukan ketakutan yang membunuhku seperti kemarin-kemarin.

Aku ingin memelihara ketakutan yang membebaskan, yang menghidupkan jiwaku, yang menjadi penyemai harap demi harap. Kau juga percaya hal semacam itu?

 

Aku ingin menyemai ketakutan yang masih berbalut kepercayaan, Al.

Kepercayaan pada takdir-Nya.

 

Kita pernah sama-sama takut terpisah, takut kehilangan.

Tapi bukankah kita masih percaya Al,

Pada simpul tak terlihat yang senantiasa erat mengikat kita, mengikat hati-hati kita?

Hingga hari ini. Hingga detik ini.

 

Kita terpisah dalam jarak yang belum juga mengijinkan kembali adanya pertemuan.

Tapi Al, bukankah kita masih selalu menatap langit yang sama?

Kita takut akan terpisah dan kehilangan.

Tapi apalah daya jarak pisahkan hati-hati yang telah terlanjur menyatu melewati batas ruang waktu?

 

Ketakutan yang kita rasakan pada akhirnya hanyalah penanda bahwa masih ada harap begitu besar yang terus-menerus kita pupuk dalam jiwa-jiwa kita.

 

Aku tak ingin melarangmu untuk merasakan takut.

Aku hanya tak ingin kau pelihara takut yang membunuhmu perlahan, Al.

 

Aku masih percaya pada pertemuan abadi di hari nanti.

Ku harap kau pun begitu… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s