Untukmu, Sang Pencari

Untukmu,
yang masih terlampau rumit untuk ku mengerti,

Semoga surat ini kau terima dengan baik.
Aku belum yakin mengapa ku tulis surat ini, aku hanya ingin menuntaskan ganjalan-ganjalan yang ada. Semoga kau bisa ‘membaca’ apa yang ingin kusampaikan dalam surat ini nantinya. 🙂

***

Bagiku Ramadhan selalu punya cerita. Tahun lalu, aku masih mengeja makna kehilangan, setahun selepas kepergian ayahku. Tahun kemarinnya, aku mengeja makna sabar dan syukur, juga atas perginya ia. Dua Ramadhan kemarin kuhabiskan (hanya) untuk memaknai penanda-penanda yang luput dari perhatianku selama ini. Tentang Ayah, dan semuanya yang telah di berikan untuk hidupku. Tentang cintanya yang tak pernah bisa kubalas dengan apapun. Kuharap semua ini bukan semata ratapan kehilangan atasnya. Karena sejatinya aku tak pernah kehilangan Ayah. Ia masih, dan akan selalu hidup dalam hatiku. Kau juga mengerti hal ini, bukan? 🙂

Tahun ini, aku tak tahu mengapa tiba-tiba terlintas pertanyaan seperti itu, “Ramadhan kali ini, hadiah apa yang sedang Allah persiapkan untukku?” “Pembelajaran apa lagi yang sedang menantiku?” Aku tak pernah menyangka bahwa satu dari sekian pembelajaran itu adalah ‘pertemuanku’ denganmu. Dengan pemikiran-pemikiranmu itu. Dengan kebijaksanaan yang mampu kutangkap dari caramu memaknai hidup. Aku bersyukur diberi kesempatan untuk sedikit bisa ‘mengenalmu’. 🙂

***

Benturan itu kupercaya memiliki dua energi. Yang pertama, yang mampu menghancurkan. Yang kedua, yang menjadi titik tolak untuk melejit dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Yang kedua inilah yang begitu kuat kurasakan dari pertemuanku denganmu. Benturan-benturan pemikiranku dan pemikiranmu menjadi daya tolak untukku melaju lebih cepat lagi, dalam pencarian ilmu-ilmu baru yang belum tersapa olehku. Benturan-benturan itu ‘memaksa’ku berlari meraup ilmu-ilmu yang terserak, hikmah-hikmah yang tercecer, untuk kemudian menambal pemahamanku yang masih retak-retak. Benturan-benturan denganmu itu membuatku makin mengerti akan kebodohanku sendiri. Akan sedikitnya ilmu yang kupahami, dan akan kebesaran ilmu-Nya yang tak bertepi. Benturan denganmu nyatanya menambah kerinduanku untuk mendekat pada-Nya, memahami bahasa-bahasa cinta-Nya yang terkadang masih luput dari nalarku. Aku semakin ingin mengenal-Nya. 🙂

Bila kemudian aku membuat jarak agar benturan-benturan denganmu tak kian menghebat, maka satu-satunya pertimbangan adalah kemungkinan akan energi pertama itu: energi yang menghancurkan. Ada beda yang terkadang masih sangat sulit untuk kuterima dari pemikiran-pemikiranmu itu. Ku rasa ini wajar. Tapi aku sadar, akan ada titik di mana aku tak mampu lagi menahan semua benturan itu. Maka aku memilih menjauh sejenak, membuat jeda untukku berpikir dan merenung sendiri, mengkonstruksi kembali pemahamanku dengan ‘pemahaman-pemahaman baru’. Kupikir inilah yang selalu bisa kunikmati dari proses belajar. Satu demi satu keajaiban kita temukan dalam tiap lembar perjalanan hidup, yang seringkali hadirnya tak terduga. Seperti kehadiranmu yang tiba-tiba, yang menjadi jembatan bagiku menuju pemahaman baru yang (kuharap) lebih baik. Kau pernah bilang bukan, “Manusia semestinya mempunyai pertimbangan-pertimbangan dalam hidup”. Dan aku sedang melakukannya. 🙂

Terkadang aku bertanya-tanya tentang pemikiran-pemikiranmu itu. Ku pikir tak banyak manusia yang sepertimu. Kau spesial. Pemikiran-pemikiranmu, idealismemu itu, seringkali membuat keningku mengerut sendiri. Bingung sendiri. Marah sendiri. Aku marah pada diriku sendiri yang tak kunjung mengerti. Pertanyaan bodoh yang kemudian selalu berdengung di pikiranku adalah, “Kenapa kamu bisa sampai mikir begitu?” Memikirkan hal-hal yang luput dari perhatianku. Yang sama sekali tak pernah terpikir olehku. (Atau sebenarnya yang sempat terpikirkan tapi kucoba abaikan saja, akhirnya?) Aku melengkapkannya dengan dua jawaban bodoh juga untuk pertanyaan bodohku ini. Yang pertama, kau memang terlahir cerdas. Kau dianugerahi kapasitas otak di atas rata-rata yang memungkinkan pikiranmu melaju lebih pesat dibanding aku. Kau sudah selesai dengan urusan X sementara aku baru memulai dengan A. Jawaban kedua yang juga sangat mungkin adalah, kau punya kepekaan untuk menjaring hikmah di bentangan kehidupan yang maha luas. Kepekaan untuk membaca ayat-ayat Nya. Sebenarnya aku masih bisa mengembangkan beberapa kemungkinan jawaban bodoh lainnya, tapi ada sesuatu yang kemudian menohokku sendiri: kenyataan bahwa aku belum banyak ‘membaca’ dan ‘berpikir’. Kenyataan bahwa aku belum mengoptimalkan fungsiku sebagai ‘manusia’ yang sesungguhnya; seorang ulil albab. Di titik ini, aku benar-benar malu. Mungkin Dia sengaja mempertemukanku denganmu untuk menegurku. Aku harus banyak belajar lagi, dan lebih peka lagi. 🙂

Namun ada satu yang masih saja menggangguku. Pertanyaan bodohku yang lain: “Apakah ada satu titik balik yang kemudian mengubah semua pemikiranmu itu?” Kadang aku merasa, hal-hal ‘ajaib’ terjadi begitu saja tanpa kita mengerti. Seperti titik-titik dalam hidup yang mengubah segalanya. Adakah hal yang sama berlaku untukmu, untuk pemikiran-pemikiranmu itu? Aku masih percaya pada sebab akibat. Meskipun kini kita hidup di zaman yang serba posmo di mana konon semua serba relatif dan saling berkaitan tanpa ada sebab-akibat tunggal; bukankah kita selalu bisa menjaring di antara ‘hal-hal yang saling berkaitan’ itu sebab demi sebab, serta akibat demi akibat? Sometimes we’re just drowning too deep into details; yet unable to see the bigger picture.

Kita mungkin bertolak dari banyak pertanyaan yang sama, tapi kemudian persepsi kita dalam memaknai ‘permasalahan’ yang ada menjadi lain. Persepsi yang berlainan inilah yang kemudian menuntun kita pada pengambilan ‘jalan’ yang berbeda, pilihan yang berbeda. Mengapa kemudian persepsi kita menjadi berlainan? Mungkin lingkungan lah alasannya. Lingkungan yang membentuk kita, lingkungan yang menempa kita selama ini. Kita dibentuk dari beragam value yang ada pada lingkungan pembentuk kita, kita tumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai yang tertanam pada kita sedari dulu. Benturan demi benturan yang kita temui juga sedikit banyak telah membentuk persepsi kita tentang banyak hal, tentang hidup ini. Maka aku setuju dengan pepatah itu, “Orang bijak tak akan berdiam di kampung halamannya”. Ia akan selalu melakukan perjalanan, merajut hikmah demi hikmah kehidupan. Kupikir inilah yang kemudian menjadi beda antara kita. Perjalanan yang kita lakukan, benturan demi benturan yang kita temui, nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, semuanya punya warna yang berbeda. Dan pada titik-titik tertentu, keadaan bisa berbalik sama sekali beda dari semula. Jauh di luar kuasa kita. Maka kupikir biarlah kita berbeda. Selama aku bisa memahamimu, dan kau bisa memahamiku. Biarlah kita berbeda. Selama kita masih terus berbuat baik kepada sesama, melakukan tugas-tugas kita sebagai manusia di bumi-Nya; seperti ‘pesan’ yang selalu kutangkap darimu. Maka, di balik beda kita tetaplah sama: Kita sama-sama manusia yang ingin mengabdi pada-Nya saja.

***

Aku selalu percaya pada kekuatan niat. “Jika niat untuk melakukan kebaikan sempurna, pertolongan-Nya akan sempurna pula, sesempurna niat kita,” nasihat seseorang padaku tempo dulu. Aku (mencoba) menyempurnakan niatku untuk belajar memahami mau-Nya, dan menetapi ketetapan-Nya untukku, meskipun dengan segala keterbatasan (pemahaman) yang kupunya. Dan kau, kupikir kau juga begitu. Masih selalu kuingat nasihatmu dulu, “Setinggi-tinggi ilmu, ia takkan memecahkan persoalan yang kau ajukan, ia takkan menjawab rasa penasaran yang kau sodorkan. Suatu ketika jika kau rasakan keringnya ilmu, atau ketika ilmu yang kau teguk seperti air garam yang membuatmu semakin kehausan dan membuatmu terjerumus dalam bahaya, carilah secarik alamat itu dan pulanglah!”

Aku tak tahu apa yang ada di benakmu ketika kau menuliskan tentang ‘alamat’ ini. Yang kemudian kucoba pahami adalah tentang pemaknaan ‘rumah’ itu sendiri. Rumah. Aku selalu percaya, rumahku sejatinya adalah tempat di mana aku bisa menemukan-Nya. Karena dari-Nya lah aku berasal. Aku memang masih dalam pencarian ‘rumah’ ku ini. Dan aku percaya pada penunjuk jalan yang ditinggalkan-
Nya, yang kini kugenggam di tanganku. Kapanpun aku bingung dan buta arah, aku selalu bisa melihat penunjuk jalan ini, peta hidup yang semoga benar menuntunku menuju ‘rumah’ yang kucari.

***

Untukmu,
yang membuatku belajar untuk selalu mengerti,

Terima kasih untuk semua ilmu yang sudah kau bagi. Untuk pembelajaran berharga yang tak mungkin kulupa seumur hidup. Darimu aku banyak belajar memaknai segala sesuatu dari sudut pandang –persepsi yang berbeda. Kita selalu sama-sama belajar, bukan? Berguru pada tangis, tawa, resah, gelisah. Kau pernah bilang kau mencoba terus menguatkan dirimu agar tidak menangis. Sekarang aku bisa katakan padamu, tak ada yang salah dengan menangis. Menangislah jika memang harus menangis. Jika kemudian menangis dapat sedikit melegakanmu dan meredakan gelisahmu itu. Menangis saja, karena kita masih manusia, yang pada suatu ketika mesti meminta kepada Yang Maha Mengabulkan tiap pinta. 🙂

Aku tak tahu bagaimana harus menutup surat ini. Menuliskan ini semua kulakukan sekedar untuk redakan gelisah yang entah mengapa masih mengganjal di hati. Kupikir kau mesti tahu semua ini, meskipun mungkin kau tak pernah ingin tahu. Sekalipun aku masih belum mengenalmu, dan pemahamanku masih jauh dari ‘utuh’ tentangmu, semoga resah dan gelisahmu itu mampu temukan jawabnya satu-satu, meskipun di penghujung waktu yang entah kapan akan kau sapa. Semoga pertanyaan-pertanyaan yang terus menggantung di langit-langit pikiranmu itu kelak terjawab dengan jawaban terbaik yang memberimu pemahaman terbaik terhadap segala sesuatu. Pun jangan pernah lupakan nasihatmu itu, “carilah alamat itu, dan pulanglah!” ketika dahaga yang kau rasa semakin mengancammu dalam bahaya. Kau yang paling tahu batas kemampuanmu, bukan? 🙂 Dan, terakhir, kuharap niatmu untuk terus (belajar) mengenal-Nya berbalas dengan pertolongan-Nya yang sempurna pula. Harap yang sama juga kutujukan untukku…

Semoga kelak kita sampai pada Rumah Cinta yang ingin kita tuju. Menatap Wajah-Nya yang Agung, yang menjadikan kita ada, dan tiada…

***
wanderer

[Rumah dengan banyak jendela. 260713. Menjelang pagi.]

Advertisements

4 thoughts on “Untukmu, Sang Pencari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s